Sabtu, 14 Januari 2012

Ijinkan Aku Mencintai-MU



YA RABB













Bismillahhirrahmabnn nirrohim YA RABB izinkan aku mencintai-Mu waloupun cinta ini tak kan Sesempurna para nabi-MU, tak sesempurna cinta para sufi-MU Dan para kekasih-MU Izinkan Aku merindukan-MU waloupun rinduku tak sebesar Para syuhada kepada-Mu Izinkan aku mencintai-MU lewat sholat yang kudirikan Yang kadang dgn pikiran melayang keberbagai Himpitan dunia Izinkan aku mencintai-Mu lewat sujud panjangku Dalam tahajud yang tak sanggup kupenuhi setiap malam Izinkan aku mencintaimu disetiap lantunan ayat ayat cinta-MU Yang masih terbata bata terlepas dari bibirku Izinkan aku mencintaimu lewat luka yang pernah Menggores dihatiku dengan memasrahkan diriku Kedalam samudra tawakal kepada-MU Izinkan aku mencintai-MU lewat sepotong hati Yang masih sering ternodai dan akan Kubasuh dengan cahaya keimanan kepada-MU Izinkan aku mencintai-Mu lewat cintaku pada saudaraku Izinkan aku mencintaMU lewat alunan pena Yang bersenandung kalamMU Izinkan aku mencintai-Mu dalam lautan rindu kepada, MU Izinkan aku mencintaimu waloupun aku haruss merangkak Menggapai cintaMU dimahligai syurga Inilah aku yang mencoba mencintai MU, semampuku Dengan segala kelemahanku Pada siapa lagi aku melabuhkan cintaku selain Pada-Mu Sang penggenggam jiwaku Aamin ya Rahman ya Rahiim .

Pelajaran Dari Surat al-Fatihah

Allah adalah penguasa yang memiliki sifat kasih sayang, bukan penguasa yang kejam dan tidak juga mengabaikan keadilan. Dengan kemurahan dari-Nya, Allah berikan balasan berlipat ganda bagi orang-orang yang beriman dan beramal salih serta mengampuni dosa-dosa mereka, yang pada akhirnya mengantarkan mereka ke dalam surga, yang kenikmatannya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia. Namun, Allah juga maha adil sehingga tidak membiarkan orang-orang yang durhaka dan kufur kepada-Nya tanpa hukuman yang setimpal dengan kezaliman mereka. Maka Allah tetap terpuji bagaimana pun keadaan dan balasan yang diterima oleh seorang hamba. Kalaulah mereka celaka, hal itu bukan karena Allah menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang telah menganiaya diri mereka sendiri.
Kepada Allah lah seorang hamba mengharap bantuan dan pertolongan karena di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan guna menguji manusia siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya; yaitu orang-orang yang ikhlas dan setia dengan ajaran Nabi-Nya. Inilah ruh agama Islam, mempersembahkan segala bentuk ibadah dan ketaatan untuk Allah semata, bukan untuk selain-Nya. Sehingga seorang hamba tidak perlu mencari-cari pujian dan kedudukan di mata manusia dengan ibadahnya. Dan juga seorang hamba akan senantiasa menyadari bahwa kekuatan yang dia dapatkan untuk melakukan itu semua semata-mata berasal dari anugerah Allah ta’ala kepada dirinya, sehingga dia pun tidak merasa ujub dengan amalnya. Maka tidak ada lagi tempat menggantungkan hati selain kepada-Nya. Hanya Allah yang pantas untuk disembah dan dipuja-puja. Adapun selain Allah adalah makhluk yang senantiasa membutuhkan-Nya. Sementara Allah sama sekali tidak membutuhkan apa-apa dari seluruh makhluk-Nya.
Karena hidup di dunia membutuhkan kesabaran; sabar dalam menjalankan ibadah, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam menghindarkan diri dari maksiat. Kalau tanpa petunjuk dan bimbingan Allah niscaya manusia akan celaka. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita beragama Islam dan melunakkan hati kita untuk melaksanakan ajaran-ajarannya dengan penuh kepasrahan dan tanpa penolakan. Hanya dengan meniti jalan yang lurus inilah manusia akan selamat dunia dan akherat. Dengan senantiasa mentauhidkan-Nya dan patuh kepada rasul-Nya. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya niscaya dia akan mendapatkan keberuntungan yang amat besar di sisi-Nya. Jalan yang lurus itu adalah jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang salih. Jalan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum.
Inilah jalan yang akan mengantarkan menuju surga-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi dan semacamnya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat dari kalangan Nasrani dan semacamnya. Jalan yang lurus adalah jalan Islam. Jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberi kenikmatan hidayah dari Allah karena ketulusan hati mereka dalam mengabdi kepada-Nya dan mencari kebenaran. Allah sudah terangkan jalan itu kepada manusia, akan tetapi tidak semua manusia mau mengikutinya. Allah utus para rasul untuk mengajak mereka menyembah-Nya dan menjauhi thaghut (sesembahan selain-Nya). Akan tetapi sebagian mereka enggan, maka pantaslah jika orang-orang seperti mereka ditetapkan tenggelam dalam kesesatan. Tatkala hati mereka berpaling maka Allah pun simpangkan hati mereka. Mereka lebih suka dengan kesesatan daripada mengikuti bimbingan ar-Rahman. Hati mereka keras membatu, atau bahkan lebih keras daripada itu. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan dan penyimpangan, dengan karunia dan kemurahan dari-Nya. Sesungguhnya Allah maha kuasa lagi mampu untuk melakukannya.

Hiasi Diri dengan Sifat Tawadhu’

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit orang yang memilikinya. Ketika orang sudah memiliki gelar yang mentereng, berilmu tinggi, memiliki harta yang mulia, sedikit yang memiliki sifat kerendahan hati, alias tawadhu’. Padahal kita seharusnya seperti ilmu padi, yaitu “kian berisi, kian merunduk”.
Memahami Tawadhu’


Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299). Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)


Keutamaan Sifat Tawadhu’


Pertama: Sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.


Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,




Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142)


Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi ‘alaihimush sholaatu wa salaam. Lihatlah Nabi Musa ‘alaihis salam melakukan pekerjaan rendahan, memantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta. Lihat pula Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Nabi Zakariya dulunya seorang tukang kayu. Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya,




Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32). Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di dunia dan di akhirat.


Kedua: Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.


Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,




Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).


Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam


Allah Ta’ala berfirman,




Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)


Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas berkata,




Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth) Subhanallah … Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.


Coba lihat lagi bagaimana keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk berdakwah dan mengurus umat.




Urwah bertanya kepada ‘Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Lihatlah beda dengan kita yang lebih senang menunggu istri untuk memperbaiki atau memerintahkan pembantu untuk mengerjakannya.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah menjawab,




Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676). Beda dengan kita yang mungkin agak sungkan membersihkan popok anak, menemani anak ketika istri sibuk di dapur, atau mungkin membantu mencuci pakaian.


Nasehat Para Ulama Tentang Tawadhu’




Al Hasan Al Bashri berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”




Imam Asy Syafi’i berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)




Basyr bin Al Harits berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir.” Yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu’.




‘Abdullah bin Al Mubarrok berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)




Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Siapa yang maksiatnya karena syahwat, maka taubat akan membebaskan dirinya. Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya. Namun, jika siapa yang maksiatnya karena sifat sombong (lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya. Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”




Abu Bakr Ash Shiddiq berkata, “Kami dapati kemuliaan itu datang dari sifat takwa, qona’ah (merasa cukup) muncul karena yakin (pada apa yang ada di sisi Allah), kedudukan mulia didapati dari sifat tawadhu’.”




‘Urwah bin Al Warid berkata, “Tawadhu’ adalah salah satu jalan menuju kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang merasa iri kecuali pada sifat tawadhu’.”




Yahya bin Ma’in berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”




Ziyad An Numari berkata, “Orang yang zuhud namun tidak memiliki sifat tawadhu adalah seperti pohon yang tidak berbuah.”[1]












@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 19 Dzulhijjah 1432 H


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


Artikel www.muslim.or.id











[1] Perkataan-perkataan ulama di atas, penulis nukil dari http://www.saaid.net/mktarat/alalm/30.htm dan http://www.wejhah.com/vb/showthread.php?t=7375



Musyrik, Syirik, dan Tauhid Adalah

Saya menulis ini karena inspirasi dari banyak perdebatan di forum tetangga sehubungan dengan kabar mbah marijan meninggal dunia itu , yaitu mereka menyoroti perilaku ritual mbah maridjan dan masyarakat sana umumnya yang suka memberikan sesaji/sajen kepada gunung, pohon, laut..bahwa sebagian orang fanatik mengatakan itu adalah perilaku musyirik dalam pandangan Agama Islam, dan saya jawab belum tentu, bahwa kita tidak bisa menjustifikasi atau mengukur kadar keimanan seseorang , bisa-bisa malah menjadi fitnah atau suudzon..


Musyrik dan Syirik Secara Terminologi


Definisi "Musyrik" semua tahu secara simple adalah menyekutukan Allah Swt dengan apapun , atau antitesa dari Tauhid. Implementasi sehari-harinya , apapun perbuatan/amalan yang dilakukan bukan untuk memperoleh keridhaan Allah swt adalah syirik . Syirik adalah sebutan untuk dosanya, dan musyirk adalah sebutan untuk pelakunya . Dalam konteks ini artinya, dalam skala makro keimanan hanya ada 2 jenis orang, yaitu orang yang bertauhid atau yang musyirik , begitu juga dalam pengamalan sehari-harinya, hanya ada 2 jenis amal perbuatan, yaitu perbuatan yang ikhlas untuk memperoleh keridhaan Allah dan perbuatan yang syirik.


“Sesuai yang amat aku takuti yang akan menimpa kamu adalah Syirik kecil. Nabi ditanya tentang hal ini, mka beliau menjawab ialah riya”. (HR. Ahmad) [Riya, yaitu beramal bukan karena Allah, tapi karena ingin dipuji dan dilihat orang]


Ilustrasi:
1- Apakah perbuatan memberikan sesaji kepada gunung dan pohon-pohon adalah syirik?
2- Apakah memberikan sepiring pisang goreng kepada tetangga adalah syirik?
Jawaban dari kedua pertanyaan diatas, bisa iya bisa tidak , tergantung niat pelakunya, dan juri mutlaknya hanya Allah yang tahu . Jika ada orang asal tuduh bahwa orang lain melakukan perbuatan syirik, namanya suudzon, fitnah, asal jeplak (tm) dan sejenisnya..


Garis Pembatas Tauhid dan Kemusyrikan


- Apakah garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan, termasuk bentuknya yang teoretis dan praktis?
- Mana pandangan yang tauhid dan mana pandangan yang musyrik?
- Perbuatan seperti apa yang dapat disebut Tauhid praktis, dan yang dapat disebut kemusyrikan praktis?
- Apakah musyrik kalau mempercayai eksistensi apa pun selain Allah?
- Apakah Tauhid Zat-Nya menuntut kita untuk tidak mem­percayai eksistensi sesuatu dalam bentuk apa pun di samping Dia, yang bahkan bukan ciptaan-Nya (semacam monoisme ontologis).


Sebelum menjawab pertanyaan diatas, maka statemen diawali dulu dengan pertanyaan "Apakah anda sungguh-sungguh beriman?"


Jika anda mengaku beriman maka konsekuensi logisnya harus mengakui bahwa segala ciptaan adalah pekerjaan Allah. Dan lanjutkan membaca...


Segala ciptaan adalah pekerjaan Allah Tidak dapat dipandang sebagai tandingan-Nya. Ciptaan Allah merupakan manifestasi kemahakuasaan-Nya. Mempercayai eksistensi suatu ciptaan sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Allah, tidak bertentangan dengan tauhid. Akan tetapi justru melengkapi tauhid. Karena itu, garis pembatas antara tauhid dan kemusyrikan bukanlah ada atau tidak adanya sesuatu selain Allah.


Apakah mempercayai sebab-akibat segala ciptaan sama dengan kemusyrikan atau pluralitas pencipta?


Apakah mempercayai tauhid perbuatan Allah berarti kita juga menolak sistem sebab-akibat, dan berarti kita juga menganggap bahwa setiap akibat tentu penyebabnya adalah Allah langsung?


Sebagai contoh, apakah kita percaya bahwa api sama sekali tak punya peran dalam pembakaran, air sama sekali tak punya peran dalam menghilangkan dahaga, hujan sama sekali tak punya peran dalam menumbuhkan tanaman, dan obat sama sekali tak punya peran dalam penyembuhan, dan bahwa Allah langsung yang membakar, langsung yang menghilangkan dahaga, langsung yang menumbuhkan tanaman, dan langsung yang menyembuhkan penyakit? .


Jika seseorang biasa memakai topi di kepalanya bila dia mau menulis surat, maka tidak dapat dikatakan bahwa ada atau tak adanya topi mengakibatkan dia menulis surat. Yang jelas adalah bahwa dia tak suka menulis surat tanpa mengenakan topi di kepalanya. Menurut pandangan ini, seperti itulah karakter dan ada dan tidak adanya segala sesuatu yang disebut sebab dan faktor. Kalau kita mempercayai sebaliknya, berarti kita menganggap bahwa Allah ada sekutu-Nya dalam berbuat. Itulah pandangan kaum Asya'irah dan kaum Jabariah.


Jadi jelas bahwa mempercayai eksistensi sesuatu ciptaan tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas Zat Tuhan, tetapi justru melengkapi kepercayaan akan keesaan Allah, maka mempercayai sistem sebab-akibat tidaklah sama dengan mempercayai pluralitas pencipta. Karena eksistensi segala ciptaan itu bukan dengan sendirinya, maka efektivitas mereka juga bergantung. Karena eksistensi dan efektivitas segala yang ada bergantung pada Allah, maka tak ada soal pluralitas pencipta.


Mempercayai sistem sebab-akibat sesungguhnya melengkapi kepercayaan akan kepenciptaan Allah. Tentu saja sama dengan kemusyrikan kalau kita percaya bahwa segala ciptaan ada sendiri, atau percaya bahwa hubungan antara Allah dan alam semesta adalah hubungan pabrikan dan produk. Mobil pada mulanya membutuhkan pabrikan agar mobil itu ada, namun setelah ada mobil itu berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri. Meskipun pabrikannya mati, mobil itu tetap dapat jalan. Kalau kita beranggapan bahwa hubungan faktor alamiah, seperti air, hujan, energi, panas, bumi, tumbuhan dan manusia dengan Allah seperti itu, seperti terkadang cenderung jadi pandangan kaum Mu'tazilah, maka pandangan seperti itu tentu saja membawa ke kemusyrikan.


referensi : http://www.al-shia.org

Dosa Dibalik Jilbab

Dosa Dibalik Jilbab:
Oleh: Ustadz Abu Rufaid Agus Suseno, Lc


















Sedangkan jilbab gaul adalah jilbab yang lagi booming sekarang ini. Ada yang memakai kerudung dengan bawahan rok yang hanya sebetis atau malah kain yang dipakai berbelah di depan (split), ada yang hanya mengikatkan kerudung pada kepala tanpa menutup dada, ada yang memakai bawahan hanya ngepas pada mata kaki dan tanpa kaos kaki, ada yang menggunakan baju berlengan panjang hingga pergelangan dan tanpa decker atau kaos tangan hingga jika diangkat tangannya niscaya terlihat perhiasan di tangannya, ada yang pakai kerudung namun untaian rambut lebih panjang daripada kerudungnya, ada yang memakai kerudung namun rambut dan ikatan rambutnya kelihatan karena tipisnya, ada yang memakai jilbab dengan corak warna yang mencuri perhatian para lelaki, menghiasi jilbab dengan renda dan bros yang sangat mencolok, dan lain sebagainya.




































Memakai jilbab itu bertujuan menghindari fitnah, dan hal ini tidak mungkin terwujud dengan memakai pakaian ketat. Meskipun terkadang pakaian ini menutupi warna kulit, namun pakaian seperti ini menampakkan seluruh lekuk tubuh atau sebagiannya.




Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menegaskan, “Tidaklah seorang wanita memakai minyak wangi lalu keluar melewati sebuah kaum supaya mereka mencium parfum mereka, maka sesungguhnya mereka adalah pezina.




Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian wanita, dan melaknat wanita yang memakai pakaian yang menyerupai pakaian lelaki.


Jadi, jilbab gaul seperti blouse pendek, wanita tidak boleh memakai celana panjang yang merupakan kekhususan bagi lelaki.




Karena biasanya, jilbab gaul mengikuti mode yang sedang berkembang di dunia barat kemudian dipoles sedikit dengan nuansa islami.




Mengapa Fenomena Jilbab Gaul Semakin Marak Dan Digandrungi Oleh Sebagian Remaja Putri Dan Wanita-Wanita Muslimah?






(Disalin Dari Majalah Sakinah Volume 10, No. 8 15 November-15 Desember 2011)


Dosa Dibalik Jilbab:

Seharusnya Kita Selalu Menangis

Seharusnya Kita Selalu Menangis:

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)


Pernahkah Anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa Allâh Ta’ala? Ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqâmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


hadist


“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis

karena takut kepada Allâh sampai air susu kembali ke dalam teteknya.

Dan debu di jalan Allâh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam”.




Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


hadist






“Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allâh-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allâh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”.


(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)




Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:












Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:






Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan Allâh Ta’ala.


Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:




Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:


hadist




Anas bin Mâlik radhiyallâhu’anhu –perawi hadits ini- mengatakan,




Imam Nawawi rahimahullâh berkata,


“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”.


(Syarh Muslim, no. 2359)




Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.



Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallâhu’anhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.


(Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41)


Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada Allâh Ta’ala merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allâh Ta’ala, tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallammenjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda Beliau:


hadist






hadist






Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allâh Ta’ala pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala.


Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata,


Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allâh Ta’ala, sebutlah Rabb-mu dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan pikirkan sesuatu pun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan menangis karena rindu kepada Allâh Ta’ala dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya?“.


Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:






Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala.


Wallâhul Musta’ân.



















[1]




(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)


(http://majalah-assunnah.com)


Seharusnya Kita Selalu Menangis:

Karena Aku Hanyalah Seorang Hamba



Ketika seseorang menyerahkan diri kepada Allah...: Karena Aku Hanyalah Seorang Hamba


Ketika seseorang menyerahkan diri kepada Allah, saat itulah dengan sadarnya dia melepaskan apapun kepentingan dan ego dirinya, seraya menyeru dalam hati dan jasadnya bahwa dia adalah telah menjadi seorang hamba.


Selanjutnya, pikiran dan hidupnya akan termotivasi tentang apa yang di ridhoi Allah atau tidak, dan sama sekali bukan tentang seleranya. Ketika diri mengakui bahwa, aku hanyalah seorang hamba, maka tidak akan ada kritik dan pencelaan pada Robbnya melainkan hanya keikhlasan hati terhadap sebuah pengabdian, kepasrahan hati tentang sebuah takdir, dan prasangka baik kepada sang pembuat skenario hidupnya.


Seorang hamba adalah milik tuannya, maka hatinya pun tidak melawan ketika sang pemiilik mengajukan garis takdir kepadanya. Seorang hamba kemudian akan senantiasa melanjutkan hidup dengan tetap mengabdi demi keridhoan pemiliknya, karena memang sudah selayaknya seperti itulah kewajibannya.


Tiada yang lebih nikmat ketika menjadi seorang hamba, selain terbebasnya kita dari rasa lebih, yang berkarib dengan sombong dan atau rasa kurang yang selalu merongrong dan menyiksa diri, karena kepercayaan kita atas perawatan dan pemenuhan dari sang pemilik kita.


Mengakui sebagai seorang hamba akan meneduhkan hati, karena batin senantiasa merasa tenang akibat seluruh kebutuhan terasa ada yang menjamin dan tercukupi.


Mengikhlaskan hati menjadi hamba adalah sumber kedamaian jiwa. Darinya kita belajar untuk selalu rendah hati dan penyayang. Karena seorang hamba adalah pengikut dan pencontoh sejati tuannya. Karena seorang hamba tidak akan mungkin mempunyai pikiran gila untuk menyombongkan diri dengan sesuatu yang ada padanya, yang jelas-jelas adalah semua itu hanyalah milik tuannya.


Ketika kita menghamba, maka luluhlah sebuah penguasaan atas diri dan menyerahkannya kepada sang pemilik kita. Ketika kita menghamba, maka tak penting lagi pujian amal baik kita yang setinggi gunung, karena hati mengajarkan bahwa semua hanyalah karena rahmat sang pemilik kita.


Dalam penghambaan, jiwa seorang hamba yang ikhlas menjadi hamba akan selalu berteriak dan merasa kurang dalam kesyukuran kepada Robb-Nya. Karena itulah, dalam kelihatan atau tidaknya dari pandangan manusia, jiwanya akan selalu terisi hanya dengan Allah berikut daftar rahmat- rahmatnya.


Wahai hamba yang dikasihi Allah,
Sungguh mulia dirimu dalam kesanggupanmu menyerah dan mendidik batin dan jiwamu, untuk menjadi hamba yang berserah. Tiada lagi keluh kesah, karena damai akan selalu melingkupi batinmu. Tiada protes apalagi episode mencaci maki jalan takdirmu, karena sesungguhnya kita adalah seorang hamba. Tiada hamba yang baik selain selalu penuh terimakasih dan kesyukuran kepada pemilik kita, yang maha penyayang kepada diri hamba- hambanya, Allah Subhanahu Wata'ala.




http://ananda-mokodongan.blogspot.com/