Minggu, 15 Januari 2012

Kau Akan Lebih Muliah Ketika Berjilbab

Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai caraberpakaian pun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216). Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Perintah dari Atas Langit

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)


Ketentuan Jilbab Menurut Syari’at

Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.

Pertama

Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab: 59 dan An Nuur: 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.

Kedua

Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik!!!; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…

Ketiga

Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

Keempat

Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung?! Wallohul musta’an.

Kelima

Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)

Keenam

Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.

Ketujuh

Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini? Wallohul muwaffiq.

(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumber: muslimah.or.id



 



Semua makhluk Allah di bumi, membutuhkan sebuah ketenangan dan kedamaian untuk meneruskan hidup. Bayangkan ketika kita berada pada kondisi yang segalanya serba tersedia dan mewah, namun pikiran kita kacau dan hati begitu kering. Maka semua nikmat tersebut hanya akan terasa seperti sekedar lewat dan pergi begitu saja tiada terkesan. Hiduppun terasa akan sangat kacau balau walau orang lain melihat kita dalam kesempurnaan. Maka tidak disangkal lagi, bahwa kedamaian dan ketenangan batin, sebenarnya adalah hal primer yang menjadi kebutuhan manusia. Tapi... Dari manakah kita bisa mendapat kedamaian itu, kedamaian yang akan ada seterusnya menyertai kita, dan bukan hanya sekedar kamuflase sesaat saja?. Saudaraku, bahkan semua itu adalah sangat mudah untuk ditemukan. Bahagiakan orang lain karena mengharap ridho Allah, maka hidupmu Insyaallah akan terasa bahagia. Memperlakukan orang lain sebaik kita memperlakukan diri sendiri, adalah seperti membuka lebar- lebar kesempatan untuk kebaikan agar selalu menyertai kita. Dan begitu kebaikan selalunya ada bersama kita, maka insyallah kedamaian akan dengan mudahnya datang kepada kita. ...Memperlakukan orang lain, sebaik kita memperlakukan diri sendiri, adalah seperti membuka lebar- lebar kesempatan bagi banyak kebaikan agar selalu menyertai kita... Saudaraku, masih ingatkah kita tentang sabda Rasulullah berikut ini, “Berilah makan budakmu dengan makanan yang biasa kamu makan dan berilah mereka pakaian dengan pakaian yang biasa kamu pakai. Janganlah kamu menyiksa makhluk Allah“. (HR. Bukhari). tanpa melihat kedudukan dan apapun dari orang tersebut, beliau mengajarkan kita untuk tetap berlaku baik dan santun bahkan kepada para budak sekalipun. Ingatlah pula tentang bagaimana beliau memperlakukan pembantu dan pekerjanya. Ketika pembantu kecil Nabi Muhamamd saw. sedang sakit, beliau membesuk dan duduk di dekat kepalanya, seraya mengajaknya untuk masuk Islam. Pembantu kecil itu masuk Islam, maka Nabi Muhammad gembira seraya berkata, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkan dirinya dari api neraka.” Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam juga senantiasa menjaga kehormatan seseorang, memulyakan seseorang, melaksanakan hak-hak seseorang. Beliau tidak pernah mengumpat, menjelekkan, melaknat, menyakiti, dan tidak merendahkan seseorang. Dan, ketika hendak menasehati seseorang, beliau berkata, “Kenapa suatu kaum melaksanakan ini dan itu? Artinya, beliau tidak langsung menyalah orang tersebut. Bahkan Beliau juga bersabda, ”Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Siapa yang mengenyahkan kesusahan dari berbagai macam kesusahan di dunia dari orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari berbagai macam kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang kesulitan, maka Allah memudahkan hisabnya" (HR. Muslim) Subhanallah, betapa mulianya akhlak beliau. Betapa mulianya ajaran yang diwariskan untuk kita. Dan memanglah benar bahwa dengan membahagiakan dan memuliakan orang lain, bukan justru akan merugikan dan merendahkan kita, namun sebaliknya, akan menjadikan kita pribadi yang mulia dihadapan manusia dan InsyaAllah mulia dihadapan Allah. Lalu, Mengapa masih ada dari kita yang harus selalu menuntut orang lain untuk menjadi sumber kebahagiaan bagi diri kita, bukankah akan lebih elegan jika hebatkan diri kita dengan menjadi pemasok kedamaian bagi batin orang lain dengan memperlakukan mereka secara baik, bahkan lebih baik?. Mungkin banyak dari kita yang mengeluhkan bahkan saat kita telah mencoba sebaik- baiknya untuk berbuat baik kepada orang lain, namun mereka tetap saja berbuat jahat kepada kita. Namun yakinlah saudaraku, bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak akan pernah sia- sia. Dan kebaikan itu juga seperti sebuah bumerang yang efeknya akan kembali kepada diri kita kembali. Sabar itu tidak memiliki batas seperti halnya surga yang begitu luas yang insyaallah akan menjadi hak milik bagi setiap kita yang memilih untuk tetap menjadi pribadi baik dan membaiki orang lain. Dan Hal ini hanya akan berlaku untuk para hambanya yang yakin. Yakin pada kebesaran dan keadilan Allah, yang maha atas segala- galanya. ... Hanyalah manusia mulia yang dapat memperlakukan sesamanya dengan mulia... Mari kita belajar tentang keindahan kasih sayang Allah atas kita. Di dunia ini benar- benar tiada hal yang lebih indah melainkan Allah, tiada yang lebih mendamaikan melainkan Allah. Kasih sayang Allah adalah yang maha mempesona. Darinya kita banyak belajar tentang banyak keindahan yang tidak akan dapat dihitung dengan pikiran manusia. Allah tetap mencintai kita dan memperlakukan diri kita secara sangat baik, betapapun kita selalu mengkhianati Allah sepanjang waktu. Marilah pula kita belajar tentang kemuliaan akhlak Baginda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang selalu santun dan baik dalam kesehariannya . Dari beliau kita belajar bahwa, hanyalah manusia mulia yang dapat memperlakukan sesamanya dengan mulia. Sungguh, tidak ada yang lebih menyejukkan selain sebuah akhlak yang baik, yang tercermin dari ketulusan kita untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa untuk orang lain. Perlakukan orang lain dengan baik, sebaik kita ingin diperlakukan baik oleh mereka, hanya karena Allah saja. Bukan karena niat ingin dipuji apalagi dicintai secara lebih oleh manusia. Memang akan susah untuk dilakukan, namun ingatlah saudaraku, bahwa kebanyakan manusia lazim melakukan yang dilakukan manusia kebanyakan. Maka istimewakan dirimu dengan hal yang akan sulit rasanya di awal tapi insyaallah akan berakhir pada kemuliaan atas dirimu. Dan sebuah kemuliaan seorang manusia, tentu saja akan tetap akan ada, bahkan saat manusia tersebut sudah tiada. Insyaalllah... (Syahidah/Voa-Islam.com) Share this post..Ananda mokodongan http://m.voa-islam.com/news/article/2011/11/16/16709/karena-mereka-adalah-diriku/

Sabtu, 14 Januari 2012

Istiqomah, Anugerah Terindah

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita agar kita beriman dan istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi terakhir dan kekasih ar-Rahman, sang pembawa petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama yang ada. Amma ba’du.
Saudara-saudaraku sekalian, … kita hidup di zaman yang penuh dengan cobaan dari Allah al-’Aziz al-Hakim. Cobaan dan ujian yang menyelimuti umat manusia ibarat derasnya hujan yang menyirami bumi, bahkan terkadang bergelombang menyerang silih berganti bak ombak lautan yang menerjang tepi-tepi pantai. Maha suci Allah dari melakukan perbuatan yang sia-sia. Sesungguhnya, dengan ujian dan musibah yang mendera manusia akan menampakkan kepada kita siapakah orang yang tegar di atas jalan-Nya, dan siapakah orang-orang yang berjatuhan dan melenceng dari jalan-Nya yang lurus.
Istiqomah merupakan sebuah perkara yang sangat mulia, yang tak akan ditemukan jawabannya kecuali dari jawaban seorang utusan Rabb semesta alam. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ جَرِيرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ
Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Mereka berdua berkata; Ibnu Numair menuturkan kepada kami [tanda perpindahan sanad] demikian pula Qutaibah bin Sa’id dan Ishaq bin Ibrahim mereka semuanya menuturkan kepada kami dari Jarir [tanda perpindahan sanad] begitu pula Abu Kuraib menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Usamah menuturkan kepada kami. Mereka semuanya meriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi, dia berkata; Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepada saya suatu ucapan di dalam Islam yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun sesudah anda.” Sedangkan dalam penuturan Abu Usamah dengan ungkapan, “orang selain anda”, maka beliau menjawab, “Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, lihat Syarh Nawawi [2/91-92])
Sebuah perkara yang sangat agung dan tidak bisa diremehkan, sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan tatkala menjelaskan firman Allah ta’ala,
“Istiqomahlah engkau sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu.” (QS. Huud : 112)
Ibnu Abbas mengatakan, “Tidaklah turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keseluruhan al-Qur’an suatu ayat yang lebih berat dan lebih sulit bagi beliau daripada ayat ini.” (lihat Syarh Nawawi [2/92]).
Sampai-sampai sebagian ulama -sebagaimana dinukil oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi- mengatakan,
“Tidak ada yang bisa benar-benar istiqomah melainkan orang-orang besar.” (Disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim [2/92])
Oleh sebab itu ikhwah sekalian, semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya, marilah barang sejenak kita mengingat besarnya nikmat yang Allah karuniakan kepada Ahlus Sunnah yang tetap tegak di atas kebenaran di antara berbagai golongan yang menyimpang dari jalan-Nya. Inilah nikmat teragung dan anugerah terindah yang menjadi cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Fusshilat : 30).
al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas -QS. Fusshilat : 30- adalah orang-orang yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada-Nya lalu istiqomah dan tidak berpaling dari tauhid. Mereka konsisten dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan itu (lihat Syarh Nawawi [2/92]).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengakui dan mengikrarkan -keimanan mereka-, mereka ridha akan rububiyah Allah ta’ala serta pasrah kepada perintah-Nya. Kemudian mereka istiqomah di atas jalan yang lurus dengan ilmu dan amal mereka, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1037-1038]).
Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu’anhu mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas (yang artinya), “Kemudan mereka tetap istiqomah”, maka beliau mengatakan, “Artinya mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Diriwayatkan pula dari beliau, “Yaitu mereka tidak berpaling kepada sesembahan selain-Nya.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam Jami’ al-’Ulum, hal. 260).
Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma tentang makna firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah”, beliau mengatakan, “Yaitu mereka istiqomah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan.” Sedangkan Abu al-’Aliyah mengatakan, “Kemudian -setelah mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah- maka mereka pun mengikhlaskan kepada-Nya agama dan amal.” Qatadah mengatakan, “Mereka istiqomah di atas ketaatan kepada Allah.” Diriwayatkan pula dari Hasan al-Bashri, apabila beliau membaca ayat ini maka beliau berdoa, Allahumma anta Rabbuna farzuqnal istiqomah; ‘Ya Allah, engkaulah Rabb kami, karuniakanlah rezeki keistiqomahan kepada kami’.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 260).

Saudaraku, Kemanakah Engkau Yang Dahulu?

Oleh: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi -hafizhahullah- *
[ Nasehat kepada diri sendiri, teman-teman kami terkhusus kepada teman-teman lama kami… Semoga Allah senantiasa menjaga diri kami dan Antum semuanya ]
Alhamdulillah wa sholatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala aalhi wa shohbihi wa salam
Merupakan sebuah kenikmatan tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala menunjuki seorang hamba untuk dapat mengenal Islam. Allah ta’ala berfirman :
“Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman, tatkala (Allah) mengutus seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari golongan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka (dari kesyirikan, kebid’ahan, dan akhlak buruk lainnya [Lihat Taisir Karimirrahman]), dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah, meskipun sebelumnya, mereka dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran : 164)
Bahkan nikmat hidayah Islam merupakan nikmat terbesar yang diterima seorang manusia dari Allah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan:
“Orang yang mendapatkan hidayah adalah orang yang beramal dengan kebenaran, dia menginginkan hidayah tersebut ada pada dirinya, dan ini merupakan anugerah Allah yang paling besar kepada seorang hamba.”( Miftah Dar As Sa’adah, Asy Syamilah)
Hidayah Islam akan membimbing hamba mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah ta’ala. Hidayah Islam akan memahamkan hamba akan hakikat keberadaan dirinya di dunia. Hidayah Islam akan membawa hamba untuk senantiasa taat dan tunduk kepada Rabbul ‘Alamin dan menjaga diri dari perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Sungguh… beruntunglah orang-orang yang berjalan di atas bumi ini, dengan bimbingan dan naungan hidayah Allah ‘Azza wa Jalla.
[ Allah Perintahkan Manusia Meminta Hidayah ]
Di setiap rakaat dalam sholat-sholat kita, bukankah Allah perintahkan kepada kita untuk membaca surat Al Fatihah??? Bukankah dalam salah satu ayat, Allah berfirman:
“(Ya Allah), berikanlah kepada kami hidayah menuju jalan yang lurus” (Al Fatihah : 6)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun adalah orang yang senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala memohong hidayah. Dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa :
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, penjagaan diri, dan hati yang merasa cukup”(HR. Muslim, no. 2721)
Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya meminta hidayah. Dan beliau adalah beliau, yang telah diampuni seluruh dosa dan kesalahannya, dijamin oleh Allah ta’ala dengan jaminan surga. Lantas kita… ??? Di manakah kita dibandingkan dengan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[ Akhi…Hargailah Nikmat yang Agung Ini ]
Tatkala Allah ta’ala melunakkan hati seorang hamba untuk dapat menerima al haq, yang ketika itu mayoritas manusia menolaknya, maka sungguh…inilah anugerah terbesar dari Allah kepada hamba. Tidaklah kenikmatan ini didapatkan oleh semua manusia, Allah (dengan segala hikmah dan pengetahuan-Nya) hanyalah menunjuki hamba tertentu saja diantara hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Allah menyesatkan orang-orang yang Dia kehendaki dan Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki” (Fathir :
Namun terkadang banyak manusia lalai akan nikmat yang agung ini, lalai dan menyia-nyiakannya. Benih-benih hidayah yang dahulu pernah tumbuh dalam hatinya, benih hidayah yang dahulu seseorang bisa merasakan lezatnya ketaatan kepada Allah karenanya, merasakan manisnya hidup di atas sunnah… Ada sebagian manusia menelantarkan kenikmatan ini, seakan-akan mereka adalah orang yang belum pernah mengenal hidayah, kembali menjadi awwam.
Sungguh sangat dikhawatirkan apa yang menimpa kaum Yahudi, menimpa pula kepada mereka. Allah ta’ala berfirman:
“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah akan memalingkan hati mereka (dari kebenaran). Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (As Shof : 5)
Saudaraku… Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran, namun tidak mau mengikutinya. Merekalah orang yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla.
Syaikh As Sa’diy rahimahullahu mengatakan, “Salah satu puncak kelancangan dan kesesatan adalah tatkala seorang manusia mengetahui kebenaran, lantas meninggalkannya. Mereka berpaling dari kebenaran dengan maksud dan keinginan mereka. Maka Allah ta’ala akan semakin memalingkan hati mereka dari kebenaran, sebagai hukuman bagi mereka, atas kesesatan yang mereka pilih. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka, karena mereka tidaklah pantas untuk menerima kebaikan, tidak pantas bagi mereka melainkan kebinasaan. (Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758)
Beliau melanjutkan, “Ayat ini, yaitu As Shof ayat 5, menunjukkan bahwa ketika Allah ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik, bukanlah berarti Allah dzolim kepada mereka. Tetapi, semua ini hanyalah disebabkan karena perbuatan mereka. Mereka sendirilah lah yang menutup pintu-pintu hidayah, setelah mereka mengilmuinya.”(Taisir Karimirrahman, Cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 758)
Allah ta’ala telah berfirman :
“Kami palingkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana pada awalnya mereka tidak beriman kepadanya (Al Quran), dan Kami biarkan mereka bimbang dalam kesesatan” (Al An’am : 110)

[Akhi…Kemanakah Engkau yang Dahulu…???]
Kita saksikan realita dengan mata kita, sebagaian saudara-saudara kita yang dahulu bersama kita mempelajari sunnah, yang dahulu sangat semangat mengamalkan sunnah, menggebu-gebu mendakwahkan sunnah, saat ini hanyut tertelan gelombang fitnah.
Jenggot yang dahulu menjadi kebanggaan, sekarang tinggallah menjadi kenangan. Pakaian syar’i yang dahulu engkau kenakan, celanamu yang dahulu di atas mata kaki, seiring berlalunya zaman, semakin memanjang, hingga menyapu jalanan.
Lupakah engkau, wahai saudaraku… bahwa kita dahulu pernah berlomba-lomba memenuhi seruan adzan? Lupakah engkau… bahwa kita dahulu sangat semangat menghadiri kajian-kajian? Bukankah engkau dahulu terhadap teman-teman perempuan selalu menjaga pandangan?
Saudariku, kemana jilbabmu yang engkau kenakan? Jilbabmu yang dahulu engkau banggakan, jilbab yang menutup sempurna, kini semakin mengecil, lantas menghilang. Saudaraku, kemanakah dirimu yang dahulu…?
Sungguh, kita saksikan saat ini, betapa ganasnya fitnah yang melanda orang-orang yang beriman. Fitnah yang menyerang kaum muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bersegeralah dalam beramal ketika datangnya fitnah, fitnah yang bagaikan potongan gelapnya malam, seorang yang beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari atau seorang yang beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi harinya, dia menukar agamanya dengan sebagian dari perhiasan dunia.”(HR. Muslim, no 328)
Tidaklah selamat dari fitnah ini melainkan dia yang ditunjuki oleh Allah untuk tegar menapak jalan kebenaran. Fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Hanyalah kepada Allah, seorang hamba memohon hidayah. Allahu musta’an.
Allah subhaanahu wa ta’ala adalah Dzat yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Orang yang dahulu sangat semangat menyerukan sunnah, saat ini telah berubah menjadi seorang yang membenci sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :

“Ya Allah, Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu”, kemudian ada yang bertanya tentang doa tersebut. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah anak Adam melainkan hatinya berada diantara dua jari dari jemari-jemari Allah. Siapa yang dikehendaki, Allah akan luruskan dia, dan siapa yang dikehendaki, Allah akan simpangkan dia.”(HR. Tirmidzi no. 3517, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini : Sanadnya Shahih)
Saudaraku…
Ini adalah sebatas nasehat …
Bagi kami…sebagai motivator supaya tegar berjalan melawan fitnah syubhat dan syahwat…
Bagi saudara-saudara kami… sebagai pengingat agar tetap istiqomah, hingga berjumpa Allah kelak di akhirat…
Terkhusus bagi saudara-saudara lama kami… yang dahulu kita pernah bersama…
Ini sebatas nasehat…
Karena agama tidaklah tegak melainkan dengan nasehat….
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ad Dinnu An Nashihat”
Washolallahu ‘ala Nabiyina Muhammad…
***
Al Faqir ‘ila Maghfirati Rabbihi ‘Azza wa Jalla
Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi

Kecantikan Sejati

Teruntuk Ukhti ku sayang



Semua orang tahu
Semua orang bisa lihat
Yang punya mata normal pasti langsung sadar
Ada akhwat cantik tanpa cadar
Punya wajah yang bersinarDan senyum yang berbinar

Ukhti
Siapa yang tidak suka melihat kulitmu yang bersih?
Siapa yang tidak senang melihat lekuk tubuhmu yang menarik?
Siapa yang menolak melihat wajahmu yang cantik?
Semua orang mau dekat denganmu
Semua orang ingin menyentuhmu
Semua orang ingin memilikimu

Tapi ukhti
Ketahuilah
Tak semua orang ingin kau miliki
Tak semua orang ingin kau mintai pertanggungjawaban atasmu
Tak semua orang ingin melindungimu
Tapi aku, aku mau

Ukhti
Aku ingin melindungi cantikmu
Aku mau menjaga dirimu
Tapi bantulah aku untuk menjagamu
Yaitu dengan ikut menjaga penampilanmu

Ukhti
Aku yakin engkau telah berulang kali mendengarkan ini
Mungkin engkau merasa bosan
Tapi aku tak akan pernah bosan mengingatkanmu

Ukhti
Engkau bagaikan sebuah berlian
Berlian yang indah bersinar
Banyak orang mengincarmu
Mereka ingin merenggut sinar itu

Tapi, Ukhti
Ketahuilah, sebuah berlian yang tak hidup itu
Diberi penjagaan berlapis-lapis
Ia dikungkung dalam lemari baja
Yang dilindungi oleh alarm
Terali besi, lemari kaca
Bahkan untuk sekedar melihat indahnya
Seseorang harus melewati prosedur berbelit-belit

Ukhti
Berlian itu hanya sebuah batu
Sedangkan engkau?
Engkau manusia! Engkau hidup! Engkau indah!
Engkau adalah karya sempurna Sang Pemahat sejati
Dan engkau lebih pantas untuk dilindungi

Sayang
Cantikmu jangan diobral
Engkau tahu kan, barang obralan itu
Mutunya rendah
Harganya murah
Seenaknya boleh dijamah
Rusak tak mengapa
kotor bukan masalah

Sayang
Cantikmu jangan diobral
Simpan cantikmu untuk yang berhak memiliki
Simpan cantikmu agar engkau makin cantik
Dengan kesempurnaan aqidahmu
Dengan kedalaman ilmumu
Yang terpancar dari balik kerudung dan jilbabmu
Simpanlah untuk orang yang bersedia menukarnya dengan surga

Ya, Ukhti
Hanya ditukar dengan akses bebas masuk surga
Dari pintu mana saja yang engkau suka sajalah
Kauberikan akses sepuasnya pada cantikmu
Dan orang yang akan memberimu akses itu
Pasti adalah orang yang tidak meminta “uang muka”
Dari cantikmu

Sayang
Cantikmu itu berharga
Cantikmu itu karunia Allah
Cantikmu itu amanah
Engkaulah yang membuat cantikmu
Menjadi pahala
Atau fitnah

Ukhti
Jangan engkau anggap cantikmu itu murah
Dunia dan seisinya tak mampu membayar cantikmu
Pemahat terhebat di dunia ini pun tak mampu mengukir bentuk seindah dirimu
Engkau adalah bidadari dunia
Tapi, jangan mau hanya jadi bidadari di dunia saja
Ayo, berusaha menjadi bidadari surga!

Ukhti
Simpan cantikmu
Orang-orang itu tak pantas menikmatinya darimu
Orang-orang itu bahkan membawa api neraka di tiap pandangan mata mereka
Sayang, cantikmu jangan diobral
Karena cantikmu, tak pantas untuk mereka.
 Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan hati kita diatas agama-Nya dan kita dianugerahi nikmat menjadihamba yang bisa mengenal-Nya, mengenal Nabi-Nyadan agama-Nya. Shalawat dan salam semoga Allahlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, parasahabat, serta mereka yang istiqamah di atas sunnahbeliau hingga akhir zamanAamiin aamiin ya rabbalalaamiin..

Ijinkan Aku Mencintai-MU



YA RABB













Bismillahhirrahmabnn nirrohim YA RABB izinkan aku mencintai-Mu waloupun cinta ini tak kan Sesempurna para nabi-MU, tak sesempurna cinta para sufi-MU Dan para kekasih-MU Izinkan Aku merindukan-MU waloupun rinduku tak sebesar Para syuhada kepada-Mu Izinkan aku mencintai-MU lewat sholat yang kudirikan Yang kadang dgn pikiran melayang keberbagai Himpitan dunia Izinkan aku mencintai-Mu lewat sujud panjangku Dalam tahajud yang tak sanggup kupenuhi setiap malam Izinkan aku mencintaimu disetiap lantunan ayat ayat cinta-MU Yang masih terbata bata terlepas dari bibirku Izinkan aku mencintaimu lewat luka yang pernah Menggores dihatiku dengan memasrahkan diriku Kedalam samudra tawakal kepada-MU Izinkan aku mencintai-MU lewat sepotong hati Yang masih sering ternodai dan akan Kubasuh dengan cahaya keimanan kepada-MU Izinkan aku mencintai-Mu lewat cintaku pada saudaraku Izinkan aku mencintaMU lewat alunan pena Yang bersenandung kalamMU Izinkan aku mencintai-Mu dalam lautan rindu kepada, MU Izinkan aku mencintaimu waloupun aku haruss merangkak Menggapai cintaMU dimahligai syurga Inilah aku yang mencoba mencintai MU, semampuku Dengan segala kelemahanku Pada siapa lagi aku melabuhkan cintaku selain Pada-Mu Sang penggenggam jiwaku Aamin ya Rahman ya Rahiim .