Sabtu, 10 Desember 2011

Membangun Jiwa Cinta Akhirat (1)

"Barang siapa yang akherat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan putuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran  berada dii depan matanya serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya." {Hadits Riwayat Tirmidzi}
 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada Rosullullah ` Amma ba'd:
Kami mengajak anda untuk bertaqwa kepada Allah k dan menyimak firman-Nya:
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat." {Asy-Syuro (42): 20} "Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan." {hud (11): 15}
"…. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", tetapi tiadalah bagian (yang menyenangkan) baginya di akhirat." {Al-Baqoroh (2): 200}
Allah telah menciptakan dunia serta menyimpan bermacam kekayaan, kebaikan dan keindahan di dalamnya; menjadikan kita menyukai sebagian kenikmatannya; sekaligus menghalalkan dan tidak mengharamkannya bagi kita; sebagai wujud kemurahan dan karunia-Nya. Allahkberfirman:
"Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan- Nya untuk hamba-hamba- Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik? " {Al-Arof (7): 32}
" Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. " {Al-Mulk (67): 15}
Bukankah Allah juga berfirman:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak ……."  {Ali 'Imron (3): 14}
Kemudian Allah menjelaskan bahwa di akherat ada yang lebih baik dari pada dunia beserta kelezatannya tadi:
" Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal."  {Al-'Ala (87): 17}
Rasulullah mengajarkan kepada para sahabatnya makna sebuah keuntungan dengan kaca amta akherat. Inilah seorang sahabat mulia bernama Shuhaib Ar-Rumi. Ketika itu ia merelakan semua hartanya dirampas oleh orang – orang kafir agar ia bisa leluasa berhijrah. Meskipun begitu, akhirnya Nabi ` sendiri yang menyambut kedatangannya seraya bersabda:
"…..perdagangan yang menguntungkan wahai Abu Yahya… perdagangan yang menguntungkan wahai Abu yahya!" {Hadist Riwayat Muslim}
Jadi, Shuhaib termasuk orang yang beruntung menurut tolak ukur akherat, sebab ia rela menjual dunia yang sementara,ditukar dengan akherat yang abadi.
Satu lagi, Nabi ` mengajarkan kepada kita agar memakai tolak ukur akherat dengan sabdanya: " Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta,tetapi kekayaan sejati ialah kekayaan jiwa" { Hadits Riwayat Muslim}
Menerangkan hadist ini, Ibnu Bathal berkata, "Makna hadits ini ialah: hakekat kekayaan bukanlah banyaknya harta, sebab mayoritas orang yang di lapangkan hartanya oleh Allah, tidak pernah merasa puas dengan –pemberian tersebut. Ia berusaha mencari tambahan tanpa perduli dari mana asalnya. Nah, seolah-olah ia justru menjadi fakir disebabkan ambisinya tersebut. Jadi, kekayaan hakiki adalah kekayaan jiwa; yaitu siapa yang merasa cukup dengan apa yang di anugerahkan kepadanya, Qona'ah (puas) dan ridho dengannya. Ia juga tidak berambisi untuk mencari tambahan terus-menerus, sehingga dia seperti orang kaya."

Karena itulah, seorang mukmin yang yakin serta berjalan di atas manhaj Kitabullah dan  Sunnah Nabi-Nya `, menurut rambu-rambu, kriteria-kriteria dan timbangan-timbangan yang lurus, merupakan orang yang bahagia; tidak hanya di dunia, tetapi juda di akherat. Ketahuilah, kriteria-kriteria inilah memotivasinya untuk selalu berorientasi kepad akherat dan senantiasa sibuk hati di dalam memperhatikan akherat. Kitabullah menjadikannya selalu menghidupkan harapan ini, demikian juga sunnah Nabinya ` senantiasa menyibukkannya dengan keinginan ini. Nabi ` bersabda:
"Barang siapa yang akherat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan putuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah akan menjadikan kefakiran  berada dii depan matanya serta mencerai-beraikannya, dan dunia tidak akan datang  kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya." {Hadits Riwayat Tirmidzi}
Maka orang yang mengerti tujuan dirinya diciptakan -yaitu beribadah kepada allah subhanahu wa ta'ala, lantas menjadikan tujuan ini sebagai cita-cita yang menyibukkan dirinya, dan tidak akan bekerja di dunia melainkan berharap tujuan ini terpenuhi; Allahkpasti memudahkan urusan-urusannya yang murni bersifat duniawi dan menghindarkannya dari beban penderitaan dalam mengejar-ngejarnya.
Sementara itu, kita menyaksikan bagaimana orang yang melupakan tujuan penciptaan dirinya, yang menjadikan dunia sebagai tujuan pertama dan terakhirnya dan melulu berfikir tentang keinginan hawa nafsunya, justru dunia lari menjauhinya sedangkan ia menggonggong mengejar-ngejarnya.

Inilah komparasi yang selalu diwasiatkan oleh orang-orang sholeh, satu sama lain.
Ada seorang tabi'in mulia, bernama 'Aun bin 'Abdullah ia berkata:
"Dulu, orang-orang baik satu sama lain menuliskan dan menasehatkan tiga kalimat berikut:
1.   Siapa yang beramal untuk akheratnya, Allahkakan mencukupi dunianya.
2. Siapa yang memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allahk, Allahkakan memperbaiki hubungan dirinya dengan manusia yang lain.
3. Dan siapa yang memperbaiki keadaan batinya, Allahkakan memperbaiki keadaan lahirnya.
Barang siapa akherat menjadi aktivitas yang menyibukkannya dan selalu menjadi harapannya, maka tak akan pernah terlewatkan satu haripun melainkan ia mengingat kemana ia akan kembali. Ia tidak akan melihat urusan dunia kecuali pasti mengaikannya dengan akheret. Ia tidak berkumpul dengan keluarganya kecuali mengingatkannya akan berkumpulnya penduduk surga. Ia tidak mengenakan pakaian kecuali terinhat akan pakaian sutra milik penghuni surga. Ia tidak menyeberangi sebuah jembatan kecuali teringatkan akan titian shiroth di atas neraka jahanam. Ia tidak mendengar suara yang keras melainkan mengingatkannya akan tiupan sangkakala. Ia tidak pernah berbicara tentang suatu pembicaraan, melainkan ada bagian yang terkaitkan dangan akherat."
Nikmatnya Menjadi Pendamba Akherat
Ringkasnya, siapa yang menjadikan akherat sebagai harapannya, pasti ingat akan akherat setiap saat ketika ia sedang bergelut dengan dunia. Anda akan melihat orang seperti ini tidak merasa senang kecuali karena akherat, tidak merasa sedih kecuali karena akherat, tidak ridho kecuali akherat tidak marah kecuali karena akherat, dan tidak berusaha kecuali untuk akherat. Tidak mengherankan kalau ia selalu mengingat-ingat akherat baik dalam bekerja, berjual beli,memberi dan menolak,serta dalam segala urusan. Barang siapa  yang keadaannya seperti ini, Alloh akan memberinya tiga kenikmatan dan Nabi ` memberinya tiga kabar gembira, yaitu:
1.  Allah Akan Mempersatukannya
Allahkakan memberikan ketenangan dan ketentraman kepadanya. Allah juga akan menghimpun  fikirannya serta menjadikannya jarang lupa. Demikian juga keluarganya, mereka akan berkumpul bersamanya. Allah akan menambah perasaan kasih sayang antara dirinya dan keluarganya dan menjadikan mereka begitu menurut kepadanya. Allah juga mempesatukan kerabatnya bersamanya serta menghindarkannya dari perpecahan dan terputusnya hubungan. Ringkasnya, dunia akan disatukan untuk dirinya. Semua itu dan semua yang diinginkannya dalam rangka ketaatan kepada Allah, disatukan padanya, untuknya,dan sekelilingnya. Hati manusia akan berkumpul kepadanya setelah Allah tetapkan ia mendapat kepercayaan dari kalangan penduduk bumi.
2. AllahkAkan Memberikan Kekayaan Hati
Sesungguhnya nikmat kekayaan hati merupakan sebuah nikmat agung. Allah memberikannya kepada siapa saja yang dia kehendaki dari hamba-hamba- Nya. Mengenai firman Allah:

"……Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik……"
{An-Nahl (16): 97}
Ibnu Katsir menafsirkan "Kehidupan yang baik" di ayat ini dengan sikap ridho dan qona'ah (menerima) yang itu merupakan kekayaan mental dan sikap menerima terhadap rezeki yang diberikan, sehingga ia tidak ngotot dalam memburunya.

Sesungguhnya kekayaan bukanlah cincin-cincin emas pada jari tangan, bukan kendaraan, rumah, pakaian, dan perhiasan. Betapa banyak orang yang memiliki semua itu, namun kita saksikan bagaimana harta itu justru menjadikannya tak bisa tidur. Gara-gara pakaian, nikmat tidurnya terampas dari kedua matanya; gara-gara makanan dia harus kehilangan kesempatan-kesempat an berharganya, bahkan mungkin ia disodori berbagai manu makanan, namun tak bisa menikmatinya.

Berbeda dengan orang yang berorientasikan akherat. Kita saksikan ia merasa rela, menerima, bahagia, tersenyum,senang hati, pandangannya teduh, merasa ridho sekaligus diridhoi, tidak ngotot, dan tidak rakus terhadap dunia. Ia mengamalkan sabda Nabinya `: "Bertakwalah kalian pada Allahk, carilah rezeki dengan cara yang baik."  {Hadits riwayat Ibnu Majah}

Artinya, berusahalah dengan usaha yang sah sesuai aturan yang dibolehkan dalam mencari rezeki duniawi. Hendaknya manusia tidak menjadikan dunia sebagai obsesinya, sehingga menyibukkan dirinya, tidur dan bangunnya  hanya untuk dunia, berfikir dan merencanakan dunia dalam sebagian besar waktu.
Kita juga akan saksikan seorang hamba yang kaya hatinya tidak segan-segan untuk memberikan harta dunianya, tidak merasa sedih kalau ia hilang, sebagaimana tidak merasa sukaria tatkala ia datang:

" (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…. "
{ Al-Hadid (57): 23}
Anda akan melihat orang ini tidak mengharamkan kesenangan bagi dirinya, tetapai jika kesenangan itu datang, maka kedatangannya semata karena hak Allahk, sebaliknya bila kesenangan itu pergi, maka kepergiannya tak lain karena ketentuan Allah.

Saya memohon kepad Allahk agar menjadikan kesenangan duniawi yang datang kepada kita itu sebagai sarana yang membantu kita dalam mentaati-Nya dan menjadikan kesenangan duniawi yang hilang dari kita adalah keburukan yang ingin Allah jauhkan dari kita.
3. Dunia Akan Datang Dalam Keadaan Tunduk
Ini merupakan nikmat ketiga yang Allah berikan kepada hamba tadi. Dunia ini memang mengherankan; semakin anda kejar, semakin ia lari menjauh dari anda, tetapi kalau anda berpaling darinya, ia justru mengejar anda. Ini bukan sekedar teori. Banyak orang sholih ketika menceritakan keadaan kehidupan duniawinya, mengatakan, "Kami sibuk dengan agama kami dan dunia dengan sendirinya datang kepada kami." Persis sebagaimana yang digambarkan oleh Ibnu Jauziv ketika beliau mengatakan, "Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari bayangan, ia justru menguntit anda, tetapi jika anda mencari-carinya, ia justru malas mendatangi anda."
Oleh karena itu, para pendamba akherat yang hatinya sibuk dengan akherat akan didatangi oleh dunia atas izin Allah, kemudian dunia akan meliputinya. Maka orang yang berakal akan menghadapkan dirinya kepada akherat dan dunia pun akan mendatanginya dengan sukarela. Sesungguhnya dunia itu berasal dari Allah, sementara akherat itu kembali menghadap Allah. Barangsiapa yang mencari akherat, Allah akan mengutus dan mengirim dunia kepadanya.
Akibat Buruk Pendamba Dunia
Adapun orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, kemudian berpikir dan bekerja semata-mata untuk dunia, perhatiannya hanya tertuju pada dunia yang memang itu tujuannya, ia merasa ridho, marah,suka dan benci disebabkan dunia, senyuman dan celaanya hanya karena dan untuk dunia, maka orang seperti ini hendaknya mengerti bahwa Alla akan menyiksanya dengan tiga hukuman, yaitu:
1. Allah Akan Menceraiberaikannya
Tidak ada sesuatupun yang mengelilinginya kecuali Allah jadikan tercerai-berai. Tidak mengherankan kalau anda akan melihat perasaannya tak karuan, pikirannya goncang dan sering frustasi gara-gara urusan duniawi yang sebenarnya sepele. Ia akan melihat harta, keluarga dan sanak familinya menjauh darinya, meskipun ia melihat mereka berada di depan mata. Ada segolongan manusia yang memiliki hampir seluruh kenikmatan dunia , pada waktu yang sama kita menyaksikan anak-anaknya hanya bisa terus berangan-angan akan berkesempatan berjumpa dengannya meski hanya satu menit. Para pegawainya justru lebih sering melihatnya dibanding anak-anaknya sendiri. Ini semua karena dunia telah menjadi tujuan.
Demikian pula anda akan melihat dunia beserta kelezatan dan kemegahannya, juga berbagai menu makanan lezat berada didepan matanya, tetapi ia tidak menyentuhnya sedikitpun. Ia makan laksana makannya orang melarat, entah karena penyakit yang ia derita ataupun sebab yang lain. Kadang-kadang makanan itu tidak mencapai kerongkongannya, meskipun hanya sedikit bukan karena sakit tetapi karena memikirkan beban ambisi duniawi dan padatnya kesibukan. Diantara mereka (terutama dikalangan wanita) ada yang tertekan oleh rasa khawatir terhadap kecantikan dan penampilannya yang menawan, lalu ia makan seperti makannya orang- orang miskin, padahal meja hidangan terbentang penuh dengan berbagai menu makanan. Kondisi seperti ini, apalagi kalau bukan sebuah bentuk kesemrawutan?

2. Kemiskinan Akan Selalu Menghantuinya
Akibatnya, ia tidak bisa merasakan sikap Qonaáh (puas dan menerima) sampai kapanpun meskipun ia berkecukupan.  Ia selalu saja merasa butuh, menjulur-julurkan lidahnya, mengejar gemerlapnya dunia dan perhiasanya yang sebenarnya itu hanya akan menambah kepayahan, kegundahan serta kerisauannya. Ketika dikatakan kepadanya:"Ada orang yang membutuhkan bantuan", tentu ia tidak memberinya, kalau toh memberi hanya sedikit dibandingkan dengan harta yang ia miliki. Lain tatkala salah seorang anaknya meminta alat-alat mainan dan bernilai mungkar, tentu akan ia berikan, seberapa pun mahalnya, asal keinginan anaknya itu terpenuhi. Anda akan melihat orang seperti ini begitu sayang kalua hartannya berkurang. Ia begitu mudah menghamburkannya untuk hal yang sia-sia, memenuhi syahwat dan perbuatan haram, tetapi begitu pelit dan bakhil serta kekurangan untuk bersedekah dan berbuat baik.
Termasuk kasus yang mengherankan, ada sebagian manusia yang telah Allah cukupi dengan keluasan karuni-Nya, tetapi kalau diminta untuk turut andil dalam pembangunan sebuah masjid,misalnya, atau membiayai seorang daí, membantu sebuah keluarga, atau membiayai anak-anak yatim, ia beralasan hartanya hanya sedikit dan tak sanggup melakukannya. Pada saat yang sama, kalau ada tawaran untuk melakukan taour keberbagai negara dunia, mengunjungi pemandangan- pemandangan haram serta suasana-suasana yang tidak diridhoi Allah yang ada disana, tentu uang beribu-ribu bahkan beratus-ratus ribu sangat remeh untuk memenuhinya. Sungguh, dialah orang fakir sejati.
3. Dunia Akan Lari Menjauhinya
Ia megejar-ngejar dunia, padahal dunia justru menjauh darinya;  Ia berlari membuntuti dunia, kemudian meminum sebagian darinya seperti orang yang menciduk air laut untuk diminum; setiap kali minum, rasa hausnya semakin bertambah. Memang di antara mereka ada yang berbuat baik, tetapi mengharap pujian, ketenaran, popularitas, atau sebagai balas jasa. Ia menghabiskan umurnya hanya untuk tujuan tersebut, sayang ternyata semua itu malah menjauhinya, sebagai hukuman yang Allah timpakan kepadanya.

Sahabat Usman bin Affanzberkata: , "Harapan terhadap dunia adalah kegelapan dalam hati, sedang harapan kepada akherat adalah cahaya dalam hati."
Orang yang mau memperhatikan keadaan dua kelompok yang berbeda tadi akan melihat aanya perbedaan yang menakjubkan.
Dalam persoalan ini, manusia terbagi menjadi tiga kelompok:
1. Orang yang lebih didominasi oleh keinginan akherat, kemudian ia bekerja untuk dunia dengan menggunakan kaca mata akherat, lantas mengertilah ia bahwa dunia hanya sebagai jembatan untuk sampai ke negeri akherat.
Tentu anda akan menganggap tak waras apabila melihat seseorang yang melewati sebuah jembatan yang menghantarkannaya dari satu negeri kenegeri yang lain, kemudia tatkala ia sampai dipertengahan malah menderumkan kendaraannya dan mendirikan tendanya serta menurunkan keluarganya disana seraya mengatakan, "Inilah ujung jalan  paling akhir."Apakah anda akan menganggap orang seperti ini sebagai orang yang berakal meskipun sebenarnya ia tertipu dengan pemandangan di sekeliling jalan tersebut?
2. Orang yang lebih di dominasi oleh raya cinta terhaadap dunia sanpai melupakannya dari akherat, hati mereka lebihtersibukkan oleh keinginan duniawi.
3. Orang yang sibuk dengan dunia dan akherat  sekaligus, mereka mencampur-adukkan keduanya. Celakanya, golongan seperi ini begitu banyak di jaman sekarang. Sebab mereka tidak berada dalam posisi yang aman tetapi di tepi jurang marabahaya.
Tentang ketiga golongan ini Yahya bi Mua'adz menyebutkan:
"Manusia itu ada tiga:  Orang yang akheratnya menjadikannya tak sempat mengurusi dunianya,dan orang yang kehidupan dunianya menjadikannya tak sempat mengurusi akheratnya, dan orang yang sibuk dengan kedua-duanya sekaligus. Yang pertama adalah derajat orang-orang yang beruntung, yang kedua adalah derajat orang –orang yang binasa, sedang yang ketiga adalah derajat orang-orang yang berada dalam marabahaya. (Bersambung ke bagian 2)

http://jilbab.or.id/archives/66-membangun-jiwa-cinta-akhirat-1/

Mengingat Kematian dan Kehidupan Sesudahnya (2)

Hamid Al-Qushairy berkata, "Setiap orang di antara kita yakin akan datangnya kematian, sementara kita tidak melihat seseorang bersiap-siap menghadapi kematian itu. Setiap orang di antara kita yakin adanya surga, sementara kita tidak melihat ada yang berbuat agar bisa masuk surga. Setiap orang di antara kita yakin adanya neraka, sementara kita tidak melihat orang yang takut terhadap neraka. Untuk apa kalian bersenang-senang? Apa yang sedang kalian tunggu? Tiada lain adalah kematian. Kalian akan mendatangi Allah dengan membawa kebaikan ataukah keburukan. Maka hampirilah Allah dengan cara yang baik.
 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu mati." (HR Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban). Al-Hasan Al-Bashry berkata, "Kematian melecehkan dunia dan tidak menyisakan kesenangan bagi orang yang berakal. Selagi seseorang mengharuskan hatinya untuk mengingat mati, maka dunia terasa kecil di matanya dan segala apa yang ada di dalamnya menjadi remeh.
Jika Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ingat mati, maka dia menggigil seperti burung yang sedang menggigil. Setiap malam dia mengumpulkan para fuqaha, lalu mereka saling mengingatkan kematian dan hari kiamat, lalu mereka semua menangis, seakan-akan di hadapan mereka ada mayat.
Syumaith bin Ajlan berkata, "Siapa yang menjadikan kematian pusat perhatiannya, maka dia tidak lagi peduli terhadap kesempitan dunia dan kelapangannya."
Ketahuilah bahwa bencana kematian itu amat besar. Banyak orang yang melalaikan kematian karena mereka tidak memikirkan dan mengingatnya. Kalau pun ada yang mengingatnya, toh dia mengingatnya dengan hati yang lalai, sehingga tidak ada gunanya dia mengingat mati. Cara yang harus dilakukan seorang hamba ialah mengosongkan hati tatkala mengingat kematian yang seakan-akan ada di hadapannya, seperti orang yang hendak bepergian ke daerah yang berbahaya atau tatkala hendak naik perahu mengarungi lautan, yang tentunya dia mengingat kecuali perjalanannya. Cara yang paling efektif baginya ialah mengingat keadaan dirinya dan orang-orang yang sebelumnya, mengingat kematian dan kemusnahan mereka.
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata, "Orang yang berbahagia ialah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain."
Abu Darda' berkata, "Jika engkau mengingat orang-orang yang sudah meninggal, maka jadikanlah dirimu termasuk mereka yang sudah meninggal."
Ada baiknya jika dia memasuki kuburan dan mengingat orang-orang yang sudah dipendam disana. Selagi hatinya mulai condong kepada keduniaan, maka hendaklah dia berpikir bahwa dia pasti akan meninggalkannya dan harapan-harapannya pun menjadi pupus.
Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam memegangi kedua pundakku lalu beliau bersabda, "Jadilah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau seorang pelancong." (HR Bukhary dan Ahmad). Ibnu Umar berkata, "Jika engkau berada pada sore hari, maka janganlah menunggu sore hariny. Pergunakanlah kesehatanmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu."
Dari Al-Hasan, dia berkata, "Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa salam bertanya kepada para sahabat, "Apakah setiap orang di antara kalian ingin masuk surga?" Mereka menjawab, "Benar wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pendekkanlah angan-angan, buatlah ajal kalian ada di depan mata kalian dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." (Diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya)
Dari Abu Zakaria At-Taimy, dia berkata, "Tatkala Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, tiba-tiba ada yang menyodorkan selembar batu yang berukir. Lalu dia meminta orang yang dapat membacanya. Ternyata di batu itu tertulis: Wahai anak Adam, andaikan engkau tahu sisa umurmu, tentu engkau tidak akan berangan-angan yang muluk-muluk, engkau akan beramal lebih banyak lagi dan engkau tidak akan terlalu berambisi. Penyesalanmu akan muncul jika kakimu sudah tergelincir dan keluargamu sudah pasrah terhadap keadaan dirimu, dan engkau akan menigngalkan anak serta keturunan. Saat itu engkau tidak bisa kembali lagi ke dunia dan tidak bisa lagi menambah amalmu. Berbuatlah untuk menghadapi hari kiamat, hari yang diwarnai penyesalan dan kerugian."
Ketahuilah, munculnya angan-angan yang muluk-muluk ini ada dua hal:
1. Cinta Kepada Dunia. Jika manusia sudah menyatu dengan keduniaan, kenikmatan dan belenggunya, maka hatinya merasa berat untuk berpisah dengan dunia, sehingga di dalam hatinya tidak terlintas pikiran tentang mati. Padahal kematianlah yang akan memisahkan dirinya dengan dunia. Siapa pun yang membenci sesuatu, tentu akan menjauhkan sesuatu itu dari dirinya. Manusia selalu dibayang-bayangi angan-angan yang batil. Dia berangan-angan sesuai dengan kehendaknya, seperti hidup terus di dunia, mendapatkan seluruh barang yang dibutuhkannya, seperti harta benda, tempat tinggal, keluarga dan sebab-sebab keduniaan lainnya. Hatinya hanya terpusat pada hal-hal ini, sehingga lalai mengingat mati dan tidak membayangkan kedekatan kematiannya.
Andakain di dalam hatinya sesekali melintas pikiran tentang kematian dan perlu bersiap-siap menghadapinya, tentu dia bersikap waspada dan mengingat dirinya. Namun dia hanya berkata, "Hari-hari ada di depanmu hingga engkau menjadi dewasa. Setelah itu engkau bertaubat." Setelah dewasa dia berkata, "Sebentar lagi engkau akan menjadi tua." Setelah tua dia berkata, "Tunggulh hingga rumah ini rampung atau biar kuselesaikan terlebih dahulu perjalananku." Dia menunda-nunda dan terus menunda-nunda, hingga selesainya kesibukan demi kesibukan dan hari demi hari, hingga ajal menjemputnya tanpa disadarinya, dan saat itulah dia akan merasakan penyesalan yang mendalam.'
Kebanyakan teriakan para penghuni neraka ialah kata-kata, "Andaikata". Mereka berkata, "Aduhai aku benar-benar menyesal", yang juga menggambarkan kata-kata "Andaikata". Sumber dari seluruh angan-angan ini adalah cinta kepada dunia dan lalai terhadap sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam, "Cintailah apa pun sekehendakmu, toh engkau akan berpisah dengannya." (Diriwayatkan Al-Hakimn dan Abu Nu'aim)
2. Kebodohan
Hal ini terjadi karena manusia tidak mempergunakan masa mudanya, menganggap kematian masih lama datangnya karena dia masih muda. Apakah pemuda semacam ini tidak menghitung bahwa orang-orang yang berumur panjang di wilayahnya tidak lebih dari sepuluh orang? Mengapa jumlah ornag tua hanya sedikit? Karena banyak manusia yang meninggal dunia selagi muda. Berbarengan dengan meninggalnya satu orang tua, ada seribu bayi dan anak muda yang meninggal dunia. Dia tertipu oleh kesehatannya dan tidak tahu bahwa kematian bisa menghampirinya secara tiba-tiba, sekalipun dia menganggap kematian itu masih lama. Sakit bisa menimpanya secara tiba-tiba. Jika dia jatuh sakit, maka kematian tidak jauh darinya. Andaikan dia mau berpikir dan menyadari bahwa kematian itu tidak mempunyai waktu yang pasti, entah pada musim panas, gugur atau semi, siang atau malam, tidak terikat pada umur tertentu, muda atau tua, tentu dia akan menganggap serius urusan kematian ini dan tentu dia akan bersiap-siap menyongsongnya.
 
Ibnu Qudamah, Minhajul Qasidin Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk, Pustaka Al-Kautsar. 
http://jilbab.or.id/archives/70-mengingat-kematian-dan-kehidupan-sesudahnya-2/
 

Mengingat Kematian dan Kehidupan Sesudahnya (1)

Orang yang tenggelam dalam keduniaan dan terpedaya olehnya, tentu hatinya lalai mengingat mati. Jika diingatkan tentang mati, maka dia merasa tidak suka dan menghindar. Dalam hal ini, manusia ada yang tenggelam, ada yang bertaubat, ada yang memulai dan ada yang sadar dan waspada

Orang yang tenggelam dalam keduniaan tidak akan mengingat mati. Kalau pun dia mengingat mati, maka dia akan menyayangkan terhadap keduniaan yang belum diraihnya, lalu sibuk mencerca mati. Ingatannya tentang kematian hanya membuatnya semakin jauh dari Allah. Sedangkan orang yang bertaubat, dia banyak mengingat mati untuk membangkitkan ketakutan di dalam hatinya, agar dia bisa bertaubat secara sempurna. Boleh jadi dia takut mati, karena merasa taubatnya belum sempurna atau sebelum dia memperoleh bekal yang layak. Ketidaksukaannya terhadap kematian masih bisa ditolerir, dan yang demikian ini tidak termasuk dalam sabda Nabi Shalallahu alaihi wa salam, "Siapa yang tak suka bersua Allah, maka Allah pun tak suka bersua dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Dia takut bertemu Allah, karena menyadari keterbatasan dan keteledoran dirinya. Dia tak ubahnya orang yang menunda pertemuan dengan kekasih, karena masih sibuk menyiapkan pertemuan dengannya, agar pertemuan itu benar-benar menyenangkannya. Jadi tidak dianggap sebagai ketidaksukaan terhadap pertemuan itu. Tandanya, dia selalu mengadakan persiapan dan tidak menyibukkan diri dengan urusan orang lain. Jika tidak, maka dia sama saja dengan orang yang tenggelam dalam keduniaan.
Sedangkan orang sadar selalu mengingat mati, karena kematian itu merupakan saat yang dijanjikan untuk bertemu sang kekasih. Tentu saja dia tidak lupa saat pertemuan dengan kekasih. Biasanya orang yang seperti ini menganggap lamban saat datangnya pertemuan itu. Dia lebih suka segera lepas dari tempat yang dipenuhi orang-orang yang durhaka, lalu berpindah ke sisi Rabbul-alamin, sebagaimana yang dikatakan sebagian diantara mereka, "Sang kekasih datang dair atas sana".
Jadi, keengganan orang yang bertaubat terhadap kematian masih bisa ditolerir. Sementara ada orang lain yang justru mengharapkan kematian. Yang lebih tinggi derajatnya adalah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, sehingga dia tidak memilih hidup dan tidak memilih mati untuk dirinya. Yang paling dia sukai adalah apa yang disukai pelindungnya. Cinta semacam ini berubah menjadi kepasrahan dan penyerahan diri. Ini merupakan puncak tujuan.
Bagaimana pun juga, mengingat mati itu ada pahala dan keutamaannya. Orang yang tenggelam dalam keduniaan, mengingat mati justru untuk mendekatkannya kepada keduniaan itu.
Ibnu Qudamah, Minhajul Qasidin Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk, Pustaka Al-Kautsar.

http://jilbab.or.id/archives/69-mengingat-kematian-dan-kehidupan-sesudahnya-1/

Ayah, Ibu…sayangilah aku, bercandalah denganku..

Wahai saudaraku pendidik, menyayangi dan bersenda gurau dengan anak kecil termasuk bentuk kasih sayang dan kedalaman pemahaman seseorang dalam dien.
Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam adalah sosok pemimpin manusia yang sangat bersikap lemah lembut terhadap anak-anak kecil. Seperti kita ketahui beliau pernah menggendong Hasan di atas pundaknya, Beliau pun mengajak tertawa, membuka mulut dan menciumnya, serta memperlihatkan dia sedang bermain, lari ke sana ke mari. Setelah itu Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam pun menangkapnya. Subhannallah…
Wahai saudaraku pendidik, tidakkah kita bercermin dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa sallam?
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan:
“Bahwasanya Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali kala itu Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi duduk di sisinya, Al-Aqra’ berkata: “Saya punya sepuluh orang anak namun tidak satu anakpun pernah saya cium!” Rasulullah menoleh kepadanya lalu berkata:
مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ
“Barangsiapa yang tidak menyayangi niscaya tidak akan disayang!”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha meriwayatkan:
“Datang seorang arab badui menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Apakah kalian mencium anak-anak? Adapun kami tidak mencium anak-anak! Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya:
“Sanggupkah kamu bila Allah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu!?”
Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam juga bersenda gurau dengan menjulurkan lidah beliau kepada anak-anak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa ”Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya di depan Hasan bin Ali, lalu ketika Hasan melihat merah lidah beliau, ia segera mendekat kepada beliau” 3
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam selalu memberi motivasi kepada para orang tua dalam hal menyayangi anak-anak, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Anas, ”Bahwa suatu ketika ada seorang perempuan datang ke rumah ’Aisyah Radhiyallahu’Anha lalu ’Aisyah memberikan tiga butir kurma kepadanya. Lalu perempuan itu memberikan masing-masing anak sebutir kurma sehingga ia menyisakan sebutir kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu masing-masing memakan kurmanya sambil memandang kepada ibunya. Kemudian ibunya mengambil kurma itu dan membelah mejadi dua lalu ia berikan kepada masing-masing anak separuhnya. Kemudian datanglah Nabi Shallallahu’Alaihi wa sallam, lalu beliau diceritakan ‘Aisyah Radhiyallahu’Anha. Setelah itu beliau bersabda:
”Sungguh apa yang dilakukan perempuan itu membuat kamu terpesona. Semoga Allah mengasihi dia karena kasih sayang dia kepada kedua anaknya yang masih kecil”4
Subhannallah…
Lalu kenapa ada ibu-ibu yang tega menyiksa anak-anak mereka, padahal Allah akan mengasihinya bila ia menyayangi anaknya?.
Bisa jadi dikarenakan mereka tidak mengetahui keutamaan dalam Islam untuk menyayangi anak kecil. Sungguh mereka telah merugi… Allahua’lam… [Bintu Nashrun]
1. Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim (2318), Abu Dawud (XIV/129), At-Tirmidzi (1911), Ahmad (II/228, 241, 269, 514), Ibnu Hibban (2236), Al-Baghawi dalam Syarah Sunnah (XIII/34), dari jalur Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih!
2 Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (X/426), Muslim ((2317), Ibnu Majah (II/390), Ahmad (VI/56-70), Al-Baghawi (XIII/34-35), dari jalur Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
3 Al Silsilah As Shahihah, hal.70
4 HR. Bukhari, di dalam kitab Adabul Mufrad, kitabul Walidat Rahimat I : 89
Referensi:
Bekal-bekal Menuju Pelaminan, ,At-Tibyan Solo
Tumbuh di bawah naungan Illahi, Doa dan Kiat Nabi Shalallahu’alahi wa sallaam mendidik anak Sejak dalam Sulbi Ayah dalam Kandungan Ibu hingga Dewasa, syaikh Jamal Abdul Rahman, Penerbit Media Hidayah

http://jilbab.or.id/archives/482-ayah-ibusayangilah-aku-bercandalah-denganku/

Tiga Orang yang Suka Pamer

Sungguh tragis, orang yang beramal namun tak ikhlas. Segala upaya, daya dan harta yang dikeluarkan menjadi sia-sia. Semuanya justru menjadi petaka ketika akhirat tiba.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan: Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diberi keputusan pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Lalu ia didatangkan dihadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’
Ia berkata, ‘Aku berperang karena diri-Mu, hingga aku mati syahid.’
Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta. Sesungguhnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakan.’
Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke neraka.
Lalu seseorang yang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an lalu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’
Ia menjawab, ‘Aku mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur’an karena-Mu.’
Allah berfirman: ‘Engkau berdusta. Sebenarnya, engkau mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya dan membaca al-Qur’an agar dikatakan bahwa engkau adalah orang yang ahli membaca. Dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke api neraka.
Lalu ada seorang yang telah Allah berikan kepadanya kelapangan dan berbagai macam harta. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’
Ia menjawab, ‘Tidak ada suatu jalan yang Engkau senang untuk diberi infak kecuali aku telah mengeluarkan infak padanya demi Engkau.’
Allah berfirman, ‘Engkau telah berdusta. Tapi engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, lalu diseret mukanya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.”
(Hadits Riwayat Muslim)
Penjelasan
Hadits Abu Hurairah radhiallu ‘anhu mengenai orang yang pertama kali diberi keputusan pada Hari Kiamat itu menceritakan tentang tiga golongan : Pelajar, Orang yang berperang, dan orang yang bersedekah. Si pelajar mempelajari suatu ilmu, mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Kemudian Allah mendatangkannya pada Hari Kiamat dan memperlihatkan kepadanya nikmat-Nya yang diberikan kepadanya dan ia pun mengakuinya. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau lakukan?” yakni dalam mensyukuri kenikmatan ini. Maka ia berkata, “Aku mempelajari dan membaca Al-Qur’an karena Engkau.” Lalu Allah berkata kepadanya, “Engkau telah berdusta. Tapi engkau belajar agar dikatakan sebagai orang yang alim dan engkau membaca al-Qur’an agar dikatakan orang yang pandai membaca, bukan karena Allah. Tapi karena ingin dilihat orang.”
Kemudian diinstruksikan untuk dibawa lalu diseret wajahnya ke dalam api neraka. Ini adalah dalil yang menunjukkan, wajib bagi seorang penuntut ilmu agar mengikhlaskan niatnya untuk Allah. Ia tidak mempedulikan apakah orang-orang menyebutnya “Orang Alim” , “syaikh”, “ustadz”, “mujtahid”, atau yang sejenisnya. Ini tidaklah penting baginya. Tak ada yang penting baginya, kecuali ridha Allah, menjaga syariat, mengajarkannya, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari hamba-hamba Allah. Dengan demikian, tertulis baginya pahala syahid yang kedudukannya berada seteah kedudukan orang-orang yang jujur . Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan barangsiapa yang metaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih.” (an-Nisa : 69)
Adapun orang yang belajar bukan untuk tujuan hal tersebut, yaitu agar ia dikatakan sebagai orang yang alim, seorang mujtahid, orang yang sangat berilmu dan yang serupa dengannya maka amalannya akan hilang, na’udzubillah. Ia adalah orang yang pertama diberikan keputusan dan diseret wajahnya ke daam api neraka dan didustakan serta dijelekkan pada Hari Kiamat.
Orang yang kedua adalah orang yang berperang. Ia berperang di jalan Allah kemudian terbunuh. Pada Hari Kiamat, Ia akan dating kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala kemudian Allah perlihatkan kepadanya nikmat-Nya yang telah diberikan kepadanya. Lalu ia mengetahui kenikmatan tersebut yaitu Allah panjangkan umurnya, mempersiapkannya, memberikan rizki, dan kekuatan kepadanya, hingga akhirnya ia sampai kepada tingkatan ini yaitu berperang. Kemudian ia ditanya, “Apa yang engkau perbuat dengan kenikmatan tersebut?”
Ia menjawab, “Wahai Rabbku aku berperang karena-Mu.” Maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah berdusta, engkau berperang aar dikatakan sebagai orang yang pemberani dan hal ini telah dikatakan.”
Kemudian diperintahkan agar ia dibawa dan diseret wajahnya ke api neraka. Demikianlah orang yang berpang di jalan Allah. Orang yang berperang di jalan Allah memiliki niat bermacam-macam. Barangsiapa yang berperang karena dorongan nasionalisme, maka ia berada di jalan thaghut. Barangsiapa yang berperang karena fanatisme golongan, maka ia berada dijalan thaghut. Dan barangsiapa yang berperang agar mendapatkan bagian dari dunia, maka ia berada di jalan thaghut. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut.” (an-Nisa:76)
tapi jika seseorang berperang karena kesukuan dan nasionalisme dibandingkan dengan untuk melindungi tanah air dari kejahatan orang-orang kafir, maka ini adalah berjuang di jalan Allah. Sebab, melindungi Negara kaum Muslimin buahnya adalah kalimat Allah yang akan jadi paling tinggi.
Tapi jika seseorang berperang agar ia dapat terbunuh saja dalam peperangan tersebut, apakah ia berada di jalan Allah? Jawabnya adalah, “Tidak.” Inilah niat kebanyakan para pemuda. Mereka pergi dengan tujuan agar mereka terbunuh dan berkata, “Kami berperang dan terbunuh sebagai orang yang syahid.” Maka dikatakan, “Tidak.” Hendaknya kalian pergi berperang agar kalimat Alah menjadi paling tinggi, walaupun harus tetap demikian. Jangan kalian pergi, dengan niat semata perang. Tapi pergilah dengan niat meninggikan kalimat Allah menjadi paling tinggi. Dengan demikian, jika terbunuh, kalian berada di jalan Allah.
Adapun orang yang ketiga adalah orang yang Allah berikan kenikmatan kepadanya dengan hara. Ia bersedekah, memberi, dan berinfak. Pada Hari Kiamat, ia dihadapkan kepada Allah dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang diberikan kepadanya. Ia mengakuinya. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lakukan trhadap kenikmatan itu?”
Ia menjawab, “Aku bersedekah dan melakukan ini dan ini.” Maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah berbiohong. Engkau melakukannya agar dikatakan bahwa si fulan adalah orang yang dermawan dan mulia. Hal itu telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret wajahnya ke dalam api neraka. Orang ini termasuk dalam tiga golongan yang dibakar api neraka pada Hari Kiamat.
Disini terdapat dalil yang menunjukkan wajibnya seseorang untuk mengikhlaskan niat bagi Allah dalam setiap yang ia berikan, berupa harta, badan, ilmu, dan lainnya. Jika ia melakukan sesatu yang diharamkan untuk mendapatkan pahala dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala lalu ia simpangkan kepada yang lainnya maka ia telah berdosa.
Maroji : Diketik ulang oleh Ummu ‘Umar untuk Jilbab Online. Tulisan diambil dari buku : Memetik Hikmah dari Telaga Sunnah” halaman 163-169, Buku karya dari Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kemudian yang dihimpun ditata, dan ditakhrij ayat-ayat dan hadits-hadits yang tertera dalam buku ini oleh Shalahuddin Mahmud as-Sa’id .Penerbit : Pustaka At-Tazkia.

http://jilbab.or.id/archives/483-tiga-orang-yang-suka-pamer/

Rumus Kecantikan Wanita

Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??
Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. Semua warga Indonesia seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dll. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syari’at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dll. Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul, bintang iklan ataupun teman pengajian yang qadarullah tampilannya memikat hati. Maka tidak heran setiap saya melewati toko kosmetik terbesar di kota saya, toko tersebut tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah milih kosmetik dalam deretan etalase dan mematut di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari si mba SPG.
Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media, sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya. Mereka sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Tujuannya? Jelas, untuk menambah deretan fans dan agar kelak bisa lebih mudah mencari pasangan hidup, alangkah naifnya. Faktanya, banyak dari teman-teman pengajian saya yang sukses menikah bukanlah termasuk wanita yang cantik ataupun banyak kasus yang muncul di media massa bahwa si cantik ini dan itu perkawinannya kandas di tengah jalan. Jadi, tidak ada korelasi antara cantik dan kesuksesan hidup!.
Teman-teman saya yang sukses menikah walaupun tidak cantik-cantik amat tapi kepribadiannya amat menyenangkan, mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar tapi mereka lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh. Pun, jika ada teman yang berwajah elok mereka malah menutupinya dengan cadar supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah bagi kaum adam dan hanya dipersembahkan untuk sang suami saja, SubhanAlloh. Satu kata yang terus bergema dalam hidup mereka yakni bersyukur pada apa-apa yang telah Alloh berikan tanpa menuntut lagi, ridho dengan bentuk tubuh dan lekuk wajah yang dianugerahkan Alloh karena inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut media ataupun pikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, punya wajah dan kepribadian yang cantik itu lebih enak tapi tidak semua orang dianugerahi hal semacam itu, itulah ke maha adilan Alloh, ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang. Dan satu hal yang pasti, semua orang bertingkah laku sesuai pemahaman mereka, jika kita rajin menuntut ilmu agama InsyaAlloh gerak-gerik kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Demikian pula yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fisik semata, menurut asumsi saya, mereka merupakan korban-korban iklan dan kurang tekun menuntut ilmu agama, sehingga lahirlah wanita-wanita yang berpikiran dangkal, mudah tergoda dan menggoda. Mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan pahamkan ia dalam agamanya”(Shahih, Muttafaqun ‘alaihi).
Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Alloh menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Alloh akan memahamkan agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula ia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu keagungan hak-Nya. Ia pun akan tahu akhir yang akan diperoleh para wali Alloh dan para musuh Alloh.
Syaikh Ibnu Baz lebih lanjut juga mengingatkan betapa urgennya menuntut ilmu syari’at:
“Adapun ilmu syar’i, haruslah dituntut oleh setiap orang (fardhu ‘ain), karena Alloh menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sementara tidak ada jalan untuk beribadah dan bertaqwa kecuali dengan ilmu syar’i, ilmu Al-Qur’an dan as Sunnah”.
Dus, sadari sejak semula bahwa Alloh menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah) sesuai pemahaman generasi terbaik yang terdahulu (salafusshalih), itu adalah tugas pokok dan wajib. Jika kita berilmu niscaya kita akan mengetahui bahwa mencukur alis (an-namishah), tatto (al-wasyimah), mengikir gigi (al-mutafallijah) ataupun trend zaman sekarang seperti menyambung rambut asli dengan rambut palsu (al-washilah) adalah haram karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk merubah ciptaan Alloh. Aturan-aturan syari’at adalah seperangkat aturan yang lengkap dan universal, sehingga keinginan untuk mempercantik diri seyogyanya dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah syara’ sehingga kecantikan kita tidak mendatangkan petaka dan dimurkai Alloh. Apalah gunanya cantik tapi hati tidak tentram atau cantik tapi dilaknat oleh Alloh dan rasul-Nya, toh kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, ia semu saja. Ada yang lebih indah dihadapan Alloh, Rabb semesta alam, yaitu kecantikan hati yang nantinya akan berdampak pada mulianya akhlaq dan berbalaskan surga. Banyak-banyaklah introspeksi diri (muhasabah), kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas dibenahi. Jangan ikuti langkah-langkah syaitan dengan melalaikan kita pada tugas utama karena memoles kulit luar bukanlah hal yang gratis, ia butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah menghambur-hamburkan uang (boros) adalah teman syaitan?. JADI, mari kita ubah sedikit demi sedikit mengenai paradigma kecantikan.
Faham Syari’at = CANTIK
Tidak Faham Syari’at = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wa sallam bersabda:
”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum”
”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan kalian” (HR. Muslim)
Mari kita simak syair indah dibawah ini:
Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum
Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga
Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu
Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik
Karena memiliki hati yang cantik
Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya
Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada
Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.
Wallahu ‘alam bisshowab (ummu Zahwa).
Maroji’:
297 Larangan Dalam Islam dan Fatwa-Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Ali Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi.

http://jilbab.or.id/archives/484-rumus-kecantikan-wanita/

Pasutri dalam Rumah Tangga yang Ideal

 
Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang).
 
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya :
 
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)- Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir. (Q.S ar-Rum [30] :21).
 
Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami atau istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, harus tahu pula hak dan kewajibannya, memahami tugas dan fungsinya masing-masing, melaksanakan tugasnya itu dengan penuh tanggung jawab, ikhlas serta mengharapakan ganjaran dan ridho dari Alloh Ta’ala.
           
            Sehingga, upaya mewujudkan pernikahan dan rumah tangga yang mendapat keridhoan Allah ‘Azza wa Jalla dapat menjadi kenyataan. Akan tetapi, mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan  manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia justru dilanda kemelut perselisihan dan percekcokan.
 
            Apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga, maka harus ada upaya ishlah (mendamaikan) . Yang harus pertama kali dilakukan oleh suami dan istri adalah lebih dahulu saling introspeksi, menyadari kesalahan masing-masing, dan saling memaafkan, serta memohon kepada Allah agar disatukan hati, dimudahkan urusan dalam ketaatan kepada-Nya, dan diberikan kedamaian dalam rumah tangganya.
 
            Jika cara tersebut gagal, maka harus ada juru damai dari pihak keluarga suami maupun istri untuk mendamaikan antara keduanya. Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada pasangan suami istri tersebut.
           
            Apabila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam memberikan jalan terakhir, yaitu “perceraian”.
 
            Syeikh musthofa al-Adawi berkata : “Apabila masalah antara suami istri semakin memanas, hendaklah keduanya saling memperbaiki urusan keduanya, berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk, dan meredam perselisihan antara keduanya, serta mengunci rapat setiap pintu perselisihan dan jangan menceritakannya kepada orang lain.
 
            Apabila suami marah sementara istri ikut emosi, hendaklah keduanya berlindung kepada Alloh, berwudhu dan sholat dua roka’at. Apabila keduanya sedang berdiri, hendaklah duduk, apabila keduanya sedang duduk, hendaklah berbaring, atau hendaklah salah seorang dari keduanya, mencium, merangkul, dan menyatakan alasan kepada yang lainnya. Apabila salah seorang berbuat salah, hendaklah yang lain segera memaaafkan karena mengharap wajah Alloh semata.”[1]
 
            Di tempat lain beliau berkata : “Sedangkan berdamai adalah lebih baik, sebagaimna yang difirmankan oleh Alloh Ta’ala. Berdamai lebih baik bagi keduanya daripada berpisah dan bercerai. Berdamai  lebih baik bagi anak dairpada mereka terlantar (tidak terusus). Berdamai lebih baik daripada bercerai. Perceraian adalah rayuan iblis dan termasuk perbuatan Harut dan Marut.
 
            Allah berfirman (yang artinya)  :
           
…..Maka mereka mempelajari dari keduanya (Harut dan Marut) apa yang dapat  memisahkankan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Alloh ….( QS. A-Baqoroh [2]:102).
              
Di dalam Shohih Muslim dari sahabat Jabir bin Abdulloh Rhodiyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas lautan. Kemudian ia mengirimkan bala tentaranya. Tentara yang paling dekat kedudukannya dengan iblis adalah yang menimbulkan fitnah paling besar kepada manusia. Seorang dari mereka datang dan berkata : ‘Aku telah lakukan ini dan itu .’ Iblis menjawab : ‘engkau belum melakukan apa-apa’. Nabi melanjutkan: “ lalu datanglah seorang dari mereka dan berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sehingga aku berhasil memisahkan ia (suami) dan istrinya. Beliau melanjutkan : “Lalu Iblis mendekatkan kedudukannya. ‘Iblis berkata sebaik-baik pekerjaan ialah yang telah engkau lakukan.’” [2]
 
            Ini menunjukkan bahwa perceraian adalah perbuatan yang dicintai setan.
           
Apabila dikhawatirkan terjadinya perpecahan antara suami istri, hendaklah hakim atau  pemimpin mengirim dua orang juru damai. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihak istri untuk mengadakan perdamaian antara keduanya. Apabila keduanya damai, maka Alhamdulillah. Namun apabila permasalahan terus berlanjut antara keduanya kepada jalan yang telah digariskan dan keduanya tidak mampu menegakkan batasan-batasan Alloh (syariat dan hukum-hukumNya) di antara keduanya. Yaitu istri tidak mampu lagi menunaikan hak suami yang disyariatkan dan suami tidak mampu menunaikan hak istrinya, serta batas-batas Alloh menjadi terabaikan di antara keduanya dan keduanya tidak mampu menegakkan ketaatan kepada Alloh, maka ketika itu urusannya seperti yang Alloh firmankan, yang artinya :

Dan jika keduanya bercerai, maka Alloh akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya Dan Alloh Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha bijaksana.
( Q.S an-Nisa’ [4] : 130 )
 
Allah Taala berfirman yang artinya :
 
Laki-laki (suami) itu adalah pelindung bagi perempuan (istri),  karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang sholih adalah yang ta’at (kepada Allah) lagi menjaga diri  ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuz [4] hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar.
  Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.
  ( Q.S an-Nisa’ [4] : 34-35 )

Pada hakikatnya, perceraian dibolehkan menurut syariat Islam, dan ini merupakan hak suami. Hak talak (cerai) dalam syari’at islam adalah dibolehkan.
           
Adapun hadits yang mengatakan “perkara halal yang dibenci Alloh adalah talak (cerai), yaitu hadits yang diriwayatkan  oleh Abu Dawud (no. 2178), Ibnu Majah (no.2018) dan al-Hakim (2/196) adalah hadits lemah. Hadits ini dilemahkan oleh Ibnu abi Hatim rahimahullah dalam al-‘Ilal , dilemahkan pula oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa ul Gholil (no.2040).
 
            Meskipun talak (cerai) dibolehkan  dalam ajaran islam, tetapi seorang suami tidak boleh terlalu memudahkan masalah ini. Ketika seorang suami akan menjatuhkan talak, ia harus berpikir tentang maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan) yang mungkin timbul akibat perceraian agar jangan sampai membawa kepada penyesalan yang panjang. Ia harus berfikir tentang dirinya, istrinya dan anak-anaknya, serta tanggung jawabnya di hadapan Alloh pada hari kiamat.
 
            Kemudian bagi istri, bagaimanapun kemarahannya kepada suami, hendaklah ia tetap sabar dan janganlah sekali-kali ia menuntut cerai kepada suaminya. Terkadang ada istri yang meminta cerai disebabkan masalah kecil atau karena suaminya menikah lagi (berpoligami) atau menyuruh suaminya menceraikan madunya. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama islam. Jika si istri masih terus menuntut cerai, maka haram atasnya aroma surga, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam
 
“Siapa saja yang menunutut cerai kapada suaminya tanpa ada alasan  yang benar, maka haram atasnya aroma surga.” [6]
 
            Abu Huroirah rahimahullah berkata :
 Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melarang : ‘ …. Dan janganlah seorang istri meminta (suaminya) untuk menceraikan saudari (madu)nya agar memperoleh nafkahnya.
 
            Dalam agama Islam dibolehkan  poligami (menikahi lebih dari satu istri) dan ini sama sekali bukan untuk menyakiti perempuan atau berbuat zholim kepada perempuan, melainkan disyariaatkan untuk mengangkat derajat perempuan dan menghormati mereka. Sebab poligami telah disyariatkan oleh Alloh yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya.
 
            Setiap keluarga selalu mendambakan terwujudnya rumah tangga yang bahagia,  diliputi sakinah, mawaddah dan rohmah. Oleh karena itu, setiap suami dan istri wajib menunaikan hak dan kewajibannya sesuai dengan syaria’at Islam dan bergaul dengan cara yang baik.
 
            Kesimpulannya, wanita tidak boleh meminta cerai dari suaminya tanpa alasan syar’i. Kepada suami istri, hendaklah selalu melaksanakan kewajiban yang Alloh bebankan kepadanya, menjauhi apa-apa yang dilarang, dan selalu berdo’a kepada Alloh agar dikaruniai pasangan dan keturunan yang sholih dan sholihah.
   
  “….Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS. Al-Furqon [25]: 74 )
 
 
Foot note:
————
1. Fiqh Ta’aamu bainaz-Zaujani
2. Hadits shohih : Diriwayatkan Muslim (no 2040)
3. Dinukil dari Fiqh Ta’ammul bainaz-Zaijaini (hal. 87-92) secarara ringkas.
4. Nusyuz yaitu meninggalkan kewajibannya selaku istri, seperti meninggalkan rumah tanpa  seizin  suaminya.
5. Hadits shohih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.2226), Tirmidzi (no. 1187), Ibnu Majah (no. 2055), Darimi(2/162) , Ibnu Jarud (no.748), Ibnu Hibban (no.1320), ath-Thobari dalam Tafsirnya (no. 4843-4844), al-Hakim (2/200), al-Baihaqi (7/316), dari Tsauban rhodiyallaahu ‘anhu.
6. Hadits shohih: Diriwayatkan oleh al-Bukhori (no.2140), Muslim (no.1515 (12)), dan Nasai (7/258)
 
———— -
Sumber : diketik ulang dari majalah Al-Mawaddah Edisi ke-8 tahun ke-1 (Maret 2008)  hal 30 dan 55-56.
http://jilbab.or.id/page/10/

Karena Cinta Aku Murtad

Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.
Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.
Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah akademi kesehatan di kota Daeng. Aku berkenalan dengan dengan seorang pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.
Seperti kata orang, “mulanya biasa saja,” yah, memang semuanya biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab. Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.
Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang mungkin biasa mengatakannya “awam”. Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya “biasa-biasa saja” tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath, ghibah, dan istilah-istilah yang lain.
Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim. Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.
Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan?
Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street. Untuk menghindari ocehan dan desas desus penghuni kampus.
Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa tanpa sadar aku sudah mulai menyukainya, mencintainya. Aku tidak tahu, apa yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya. Kehidupannya juga sederhana, wajahnya malah dibawah rata-rata. Apa karena rayuannya? Kelihaiannya mengumbar rayuan gombal menjadikanku merasa tersanjung dan berbunga-bunga. Seakan-akan akulah wanita yang paling menarik di dunia ini. Di sampingnya aku selalu merasa yang terbaik. Dia sungguh pandai menggombal.
Tak pernah kusangka dan kuduga sebelumnya, hubunganku dengannya sudah melewati ambang batas moral dan norma agama.
Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah hidupku. Aku hamil. Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu. Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak berani lagi pulang ke kampung dengan corengan hitam di wajahku. Tidak sampai di situ, entah darimana pihak birokrasi kampus mengetahui kehamilanku di luar nikah, yang berujung dengan memecatku.
Pihak kampus tidak mengetahui siapa bapak dari bayi yang kukandung. Dia mengancamku dan menyuruhku untuk tutup mulut. Aku tersudut. Entah mengapa dia sudah begitu menguasai hidupku. Seakan membuatku tak mampu bergerak.
Dan aku tidak mengerti, mengapa aku selalu menurut saja pada setiap kata dan perintahnya. Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya terhadapku.
Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan masuk ke agamanya. Menjadi seorang non muslim sepertinya. Ternyata orang yang selama ini mencurahkan perhatiannya -yang kukira tulus untukku- adalah seorang misionaris.
Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi. Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku. Masuk telinga kiri, keluarpun juga lewat telinga yang sama. Aku tidak pernah membayangkan jika aku akan menjadi korbannya. Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa kehidupanku.
Mirisnya karena aku sudah terlanjur menjadi korbannya. Kakiku sudah sulit dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali. Yang ada di kepalaku saat itu bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil yang ada di rahimku. Tentang aib, tentang calon istri bayi yang aku juga mulai mencintainya. Aku tidak ingin menggugurkannya. Ia darahku dan aku ingin merasakan desahan nafasnya. Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta di dalam dekapanku.
Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain. Aku tidak sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah. Aku tidak mau bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat. Ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti? Sedangkan aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyak pengangguran yang ada di kota ini.
Akhirnya, kuikuti keinginannya. Kujual akidahku dengan harga yang sangat murah dan tak bernilai. Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku, beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci.
Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat. Saat ini, meskipun ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah satu korban misinya, ia tengah berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang sama. Korban misi yang berikutnya.
Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut. Aku selalu ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar. Aku ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku. Rasanya perih. Aku menjadi semakin lemah. Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti ini? Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya. Tapi lagi-lagi tetap saja aku tidak bisa. Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku mengerti.
Tapi hatiku sedikit lega saat kudengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya. Akhwat itu pastilah lebih mengerti tentang kristenisasi dan akan memahamkan dirinya. Sehingga mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit unutk bisa mendekatinya.
Saat kisah ini dituturkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung dalam penderitaan dan penyesalan. Penderitaanku ini mungkin adalah balasan atas dosa besar yag telah kuperbuat.
Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di manapun berada. Semoga kisahku ini yang hanya berwujud tinta di atas kertas, dapat dibaca dan dijadikan sebagai pelajaran bagi seluruh perempuan -khususnya para remaja muslimah- bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan metode-metodenya yang beragam.
Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah. Jangan tunggu sampai menyesal seperti keadaanku sekarang. Jangan menunggu sampai kau merasa bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan saat kehancuran kita sebagai wanita yang gagal mempertahankan kehormatannya menyapa.
Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang mulia. Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan. Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain. Agar tidak lagi menjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami terhadap mereka. Agar tidak ada lagi terjadi perusakan fitrah terhadap bayi-bayi yang tak berdosa. Jika ibu mereka adalah Islam, maka insya Allah anaknya juga akan Islam.
Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih.
Mereka bukan kekasih …, tetapi serigala yang ingin menelanmu bulat-bulat. Bacalah buku-buku atau majalah-majalah Islami. Jadilah wanita yang cerdas dan tangguh. Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku. Belajarlah dari penyesalan dan penderitaanku. Sungguh …, apa yang kualami sangat menyakitkan. Kau akan merasa antara hidup dan mati. Tak ada lagi senyum ceria. Air matapun mengering. Selagi kau bisa meniti dan merencanakan mada depanmu.
Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang sedetik. Sekali lagi …, belajarlah dari hidupku!!! Dan tolong doakanlah aku semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku, sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar.
Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang diantaranya. Tolong doakanlah aku barang semenit saja. Karena saat ini aku benar-benar merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia.
“Anakku, maafkan Ibu karena telah merusak fithrahmu, cepatlah besar untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupmu.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR.Bukhari)
Dari seorang sahabat, Cahaya Bintang
Semoga Allah selalu menjagamu.
24 Juli 2005

diketik ulang dari buku:
“KARENA CINTA AKU MURTAD; kisah-kisah bertabur hikmah dan insprirasi untuk melewati episode keremajaan kamu” Suherni Syamsul, Penerbit: Gen!mirqat, hal 1-11.
http://jilbab.or.id/archives/516-karena-cinta-aku-murtad/

Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?

Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka dan memang tak bisa dipungkiri! Begitupula masalah memilih pasangan hidup tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, tidak membosankan. Salahkah bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik?
Wahai ukhti saudariku,.. jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan mengekalkan hubungan percintaan (pernikahan)dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya maka islam tidaklah melarangnya. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1
Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits diatas:2
Dalam hadits diatas menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya (nasabnya), kecantikannya, dan karena agama si wanita tersebut.Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu pilihlah yang beragama.Yaitu pilihlah wanita karena keshalihahannya.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:
Misalnya ada seorang laki-laki memilih wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia melihat apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Kiaskanlah dengan keistimewaan yang lainnya! Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’, maka dia dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tentukan dan tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan.Kalaupun dia membatalkan pilihannya berarti dia telah mendahulukan keshalihan (agama) dari kecantikan. Atau ketika akan memilih dia menentukan sesuai dengan apa yang dia mau atau sesuai dengan seleranya misalnya: “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya.Karena memang berjalan dengan fitrah manusia. Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”
Akan tetapi tetap saja penentuan akhirnya ada pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: Maka pilihlah yang beragama! Maksudnya janganlah kau kalahkan agamamu dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. Padahal sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihanmu jatuh pada wanita shalihah berarti engkau telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Istimewa kalau wanita shalihah pilihanmu itu seperti yang kau ingini. Hukum ini juga berlaku bagi setiap muslimah yang akan menjatuhkan pilihannya kepada laki-laki muslim.
Setelah tahu penjelasan hadits diatas tentu kita melihat betapa indahnya islam sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mengekalkan hubungan mereka maka islampun menganjurkan agar mereka melihat (nazhar) hal-hal yang dapat membuat mereka tertarik untuk segera menikah dan salah satunya adalah faktor kecantikan yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Wallahu ‘alam.
Sumber:
- Al Masail Masalah-masalah Agama jilid 7, Abdul hakim Abdat, Darus Sunnah, Jakarta, 2006.
- Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Kautsar.
Artikel ini telah di muraja’ah oleh ustadz Eko Haryanto Lc (Abu Ziyad)

Catatan Kaki:
  1. HR. Bukhari no.5090, Muslim no.1466 [↩]
  2. Lihat Al-Masail Masalah-masalah Agama jilid 7 hal :179-180 [↩]

Kisah Seorang Wanita yang Bertaubat

Dosa besar yang telah ia perbuat, mengantarkannya pada sebuah pertaubatan yang agung. Ia dirajam di kota Madinah. Taubatnya setara dengan taubat 70 warga Madinah. Bahkan, Rasul pun mensholatkannya. Jangan ragu untuk bertaubat.
Imran bin al-Husain al-Khunza radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa ada seorang wanita dari Juhainah yang datang kepada Rasulullah Shollallahu alayhi wa Sallam falam keadaan hamil karena berzina. Ia berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar batas. Maka tegakkanlah hukum terhadapku.” Kemudian Nabi memanggil salah seorang walinya agar memperlakukannya dengan baik. Beliau berkata, “Perlakukan dia dengan baik. Jika ia telah melahirkan maka bawalah dia kepadaku.” Maka ia melakukannya. Nabi pun memerintahkan untuk menghadirkan wanita tersebut. Lalu bajunya diikatkan pada tubuhnya. Lalu beliau memerintahkan agar wanita itu dirajam. Lalu Rasulullah menshalatkannya. Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Apakah engkau menshalatkan dia wahai Rasulullah? Sedangkan ia telah berbuat zina?” Rasulullah bersabda, “Ia telah melakukan taubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya merea semua akan mendapatkan bagian. Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah?” (HR. Muslim)
Makna di Balik Kata
Dalam riwayat yang dinukilkan oleh Syaikh Utsaimin rahimahullah dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu, ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shollallahu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan hamil karena telah berzina.
Ia pun berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah melanggar had(batas), maka tegakkanlah had (hukuman) terhadapku.” Yakni, aku telah melakukan sesuatu yang mengharuskanku untuk dikenai had (hukuman) maka tegakkanlah had itu terhadapku.
Lalu Nabi memanggil seorang walinya dan memerintahkannya untuk memperlakukannya dengan baik. Apabila ia telah melahirkan, maka hendaklah ia membawanya kepada Rasulullah.
Ketika ia telah melahirkan, walinya membawanya kepada Rasulullah. “Dan Nabi memerintahkannya untuk menghadirkan wanita tersebut,” yaitu bajunya diselimutkan dan diikat agar tidak tersikap auratnya. “Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam, maka ia pun dirajam.” yaitu dilempari dengan batu. Ukuran batu itu tidak besar dan tidak kecil, hingga ia meninggal. Lalu Nabi menshalatkannya.
Beliau mendoakannya dengan doa bagi orang yang telah meninggal. “Lalu Umar berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menshalatkannya sedangkan dia telah berbuat zina, wahai Rasulullah?” Sedangkan zina adalah termasuk dosa yang paling besar. Maka Rasulullah berkata, “Ia telah berta ubat dengan taubat yang apabila dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, niscaya merea semua akan mendapatkan bagian.”Yakni, taubat yang luas, seandainya dibagikan kepada 70 orang dimana semua mereka berbuat dosa, niscaya mereka akan mendapatkan taubat itu dan bermanfaat untuk mereka.
“Apakah engkau mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada ia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala?”Yaitu, apakah engkau mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari keadaan ini. Yaitu seorang wanita yang datang dan telah membersihkan dirinya, yaitu menyerahkan dirinya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan terlepas dari dosa zina. Tidak ada yang lebih baik dari hal ini.
Pelajaran dari Kisah Ini
Pertama, seorang pezina jika ia seorang muhshan (telah menikah) maka ia wajib untuk dirajam. Ini disebutkan dalam kitab Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan merupakan ayat yang dibaca oleh kaum Muslimin dan mereka hapalkan, mereka pahami dan terapkan. Nabi dan para Khulafaur Rasyidin setelahnya telah melakukan rajam. Tapi Allah dengan kebijaksanaan-Nya telah menghapusnya dari Al-Qur’an secara lafadz dan membiarkan hukumnya berlaku di antara umat ini. Apabila seorang yang muhshan, yaitu yang telah menikah melakukan perzinaan, maka ia akan diraham hingga meninggal. Ia diberdirikan di tempat yang luas. Lalu orang-orang berkumpul dan mengambil batu yang mereka gunakan untuk melemparnya hingga meninggal.
Ini merupakan hikmah Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Yaitu, syariat tidaklah memerintahkan untuk memenggal kepalanya dengan pedang sehingga perkaranya selesai. Tapi ia dirajam agar ia tersiksa dan merasakan pedihnya siksaan sebagai balasan apa yang telah ia dapatkan, berupa lezatnya sesuatu yang haram karena orang yang berbuar zina ini seluruh badannya merasakan nikmatnya sesuatu yang haram.
Karenanya, para Ulama rahimahullah berpendapat untuk tidak menggunakan batu besar. Sebab, ia akan membunuhnya dengan cepat dan ia pun terbebas. Tidak pula dengan batu kecil sekali karena hal itu akan menyakitinya dan lama matinya. Tapi dengan batu yang sedang sehingga ia dapat merasakan sakit kemudian mati.
Apabila ada seseorang yang mengatakan, bukankah Rasulullah telah mengatakan:
“Apabila kalian membunuh maka membunuhlah dengan baik dan apabila kalian menyembelih maka sembelilah dengan baik.” (HR.Muslim)
Membunuh dengan pedang lebih enak bagi orang yang dirajam, daripada ia harus dirajam dengan batu.
Kita katakan, benar Rasulullah telah berkata demikian. Tapi pembunuhan yang baik adalah terjadi apabila karena sesuai dengan syariat. Karena itu, apabila seorang laki-laki yang telah bertindak jahat kepada seseorang, lalu ia membunuhnya dengan sengaja dan memutilasi (membunuh dengan memotong-motong anggota tubuh), maka kita akan memutilasi pelaku kejahatan ini sebelum kita membunuhnya.
Misalnya, jika seorang pelaku kejahatan membunuh seorang. Lalu ia memotong kedua tangannya. Kemudian kedua kakinya, lisannya lalu kepalanya, maka kita tidak membunuh pelaku kejahatan tersebut dengan pedang. Tapi kita potong kedua tangannya, lalu kedua kakinya, lisannya, kita potong kepalanya sebagaiana ia berbuat. Ini termasuk bersikap baik dalam membunuh. Karena sikap baik dalam membunuh adalah dengan sesuatu yang sesuai dengan syariat bagaimanapun keadaannya.
Dalam hadits ini, terdapat dalil yang menunjukkan bolehnya seseorang untuk mengakui dirinya berbuat zina, dengan tujuan untuk mensucikan dirinya dengan penegakan had, bukan untuk membuka kejelekan dirinya. Orang yang membicarakan dirinya bahwa ia telah melakukan perzinaan dihadapan Imam atau wakilnya dengan tujuan agar ditegakkan hukuman atas dirinya maka orang ini tidaklah dicela dan dihina.
Adapun orang yang menceritakan kepada masyarakat bahwa dia telah berbuat zina, berarti ia telah membongkar aib dirinya sendiri. Ia tak akan dimaafkan. Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda :
“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang mujahir (terang-terangan). Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah orang yang mujahir itu?” Beliau berkata, “Ia adalah orang yang berbuat dosa kemudian Allah tutupi aibnya. Lalu pada pagi harinya ia menceritakannya.” (HR. Muttafaq alaih)
Ada jenis yang ketiga, yaitu orang fasik yang melampaui batas dan tidak punya rasa malu. Ia bercerita tentang ziba dengan bangga, na’udzu billah!Ia berkata bahwa dia pergi ke berbagai negeri untuk berbuat dosa, berzina dengan banyak wanita, dan berbagai kemaksiatan lainnya, dengan rasa bangga.
Orang ini harus diminta bertaubat. Jika ia bertaubat, maka ia akan mendapatkan ampunan. Jika tidak, maka ia dibunuh. Sebab orang yang bangga dengan perbuatan zina, maka sudah pasti ia menghalalkan zina, na’udzu billah! Barangsiapa yang menghalalkan perbuatan zina maka dia adalah orang kafir.
Sebagian orang fasik melakukan hal itu. Yaitu, orang-orang yang karena perbuatannya, kaum muslimin mendapatkan musibah. Banyak orang merasa bangga dnegan hal ini. Jika ia pergi ke suatu negeri yang terkenal dengan kefasikan dan tidak ada rasa malu seperti Bangkok dan negeri-negeri yang penuh kekejian perzinaan, homoseksual, khamar dan lain sebagainya, lalu ia pulang menjumpai temannya dan bangga menceritakan apa yang telah dilakukan.
Orang ini, sebagaimana telah dikatakan harus dimintai untuk bertaubat. Apabila ia bertaubat, maka ia diampuni. Jika tidak mau, maka ia dibunuh. Karena orang yang menghalalkan perzinaan dan lainnya diantara perbuatan yang diharamkan secara jelas dan disepakati keharamannya, maka ia adalah orang kafir.
Rincian Taubat Nasuha
Bisa jadi seseorang telah bertaubat dengan taubat yang nasuha (taubat dengan benar), ia menyesal dan berjanji kepada dirinya untuk tidak mengulanginya. Orang ini sebaiknya tidak pergi dan menceritakan tentang dirina. Tapi hendaklah ia merahasiakan perkara itu dan hanya Allah yang tahu. Barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan menerima taubat.
Adapun orang khawatir bahwa taubatnya bukanlah taubat yang nasuha dan khawatir jika ia akan kembali pada perbuatan dosa, sekali lagi maka orang ini sebaiknya pergi kepada pemerintah, hakim, dan lainnya, lalu mengaku dihadapannya agar ditegakkan hukuman terhadapnya.
Sumber : diketik ulang oleh Ummu ‘Umar  dari Memetik Hikmah dari Telaga Sunnah (Kumpulan Kisah dari Syaikh Utsaimin) oleh Shalahuddin Mahmud as-Sa’id,   Pustaka At-Tazkia, 2006 (hal. 181-188)

http://jilbab.or.id/page/8/